Anak-Anak Mimpi

Image

Tahun 2002

Pengumuman Ujian Akhir Nasional tingkat SLTP/MTS telah tiba, para peserta UAN berdebar-debar saat detik-detik pemberian surat kelulusan maupun ketidak lulusan. Jarum jam dinding menunjukkan jam tujuh pagi, sekolah-sekolah tingkat SLTP/MTS sudah mulai disesaki para peserta yang ingin tahu hasilnya.

MTS Pondok pesantren Darul Ulum yang terletak di Desa Cililin kab. Bandung barat tampak masih sepi, baru para asatidz yang lebih awal tiba di kantor guru tingkat MTS (madrasah tsanawiyah). Setelah itu barulah para santri peserta UAN telah duduk di bangku masing-masing, menanti sebuah hasil dari UAN. Mayoritas santri tersebut optimis hasil UAN nya sangat memuaskan, namun sebagiannya lagi merasa pesimis. Ternyata mayoritas santri bergembira menerima hasilnya.

“Jang Eruk, al-hamdulillah do’aku dikabulkan. Besok aku mau daftar ke SMA 5 Cimahi.” Hilman merangkul pundak Muhammad al-Faruk (biasa dipanggil jang Eruk) dengan gembira.

“Wah hebat kamu lulusan MTS bisa masuk ke SMA paling favorit di Cimahi, selamat ya!” Faruk menyambut kegembiraan temannya.

Ya Allah apakah ini keadilan-Mu yang kau berikan padaku, nilai hasil UAN yang sangat tidak memuaskan. NEM aku tidak bisa masuk ke sekolah-sekolah favorit. Engkau tahu bahwa diriku tidak mau masuk ke SMA swasta maupun ke pesantren lagi. Padahal aku sudah kerja keras belajar, di manakah letak keadilan-Mu ya Allah. Dalam hati Faruk menyalahkan Tuhannya. Dengan berat hati dia harus menerima hasil ini. Malam ini adalah malam penentuan nasib pendidikannya akan dilanjutkan ke mana?

“Ya payah kamu ruk, gimana mau masuk ke sekolah favorit kalo Nem kamu Cuma 27. Masuk ke SMA negeri yang biasa aja kamu gak bakalan keterima ruk. Udah kamu masuk pesantren lagi. Gimana?” Ayah Faruk menawarkan kepadanya.

“Gak yah, aku gak mau pesantren lagi, bosen, gak betah. Mendingan melanjutkan ke swasta aja. Biar gak……”

Ibunya segera memotong omongan Faruk, “Ibu gak bakalan ngijinin kamu masuk ke swasta. Kamu pengen jadi anak berandalan hah!”

“Udah ruk kamu terima aja tawaran ayah. Kalo kamu gak mau masuk pesantren yang dulu.. teteh punya teman yang ngajar di Pesantren Indramayu”

“Indramayu, di mana tuh?”

“Kamu siapkan aja segala perlengkapan. Besok pagi kita berangkat ke Indramayu.”

“Hah, mendadak amat!” Faruk kaget dengan keputusan sepihak yang diambil ayahnya.

“Jangan banyak omong. Kamu mau putus sekolah?”
• * * * * * * * *

Perjalanan dari Bandung ke Indramayu memghabiskan waktu 4 jam. Daerah dekat pantai utara yang panas. Ehm, ini ternyata daerah Indramayu, panas juga masih pedalaman kayak di Cililin. Padahal aku ingin sekolah di sebuah kota besar, minimal di kota Cimahi, Ternyata takdir menentukan di desa lagi. Aku akan senang jika pesantren di ma’had az-Zaitun yang termewah se Asia Tenggara, ternyata bukan kawan. Pesantren tempat aku melanjutkan pendidikan ternyata kecil. Itulah Pesantren Darunnajah namanya. Batin Faruk menjerit.

Saat Faruk masuk ke kawasan pesantren, ruangan Penerimaan Santri Baru begitu sepi. Dari meja pendaftaran santri baru seorang lelaki setengah baya menyambut kedatangan keluarga Faruk. Dia merasa, apakah mungkin dia yang pertama kali mendaftar? Padahal ini hari terakhir pendaftaran. Sangat beda, ketika dirinya mendaftar ke Mts Pesantren Darul Ulum saat hari terakhir pendataran masih ada ratusan calon santri yang mendaftar ke pesantren tersebut, belum ditambah lagi dengan calon santri tingkat Madrasah Aliyah (MA), tidak terhitung…

“ngomong-ngomong yang sudah daftar ke Aliyah ada berapa orang pak?”

“Baru Sembilan santri, insya Allah akan nambah lagi pak.” Lelaki tersebut tersenyum.

Faruk melihat papan nama yang terletak pada kemeja lelaki tersebut, Oh ‘Ajat Sudrajat’ namanya. Baru kali ini dia sekolah dengan jumlah murid yang bisa dihitung oleh jari, bagaimana nasib belajarnya dengan jumlah yang sangat sedikit ini? Pikir Faruk. Dirinya pasrah ketika formulir pendaftaran dan persyaratan lainnya sudah dipenuhi. Tidak ada pilihan lagi, semua pendaftaran sudah tutup.

Saat diantarkan ke asrama putera, dia kaget ternyata asramanya tidak perkamar di dalamnya, mirip dengan aula yang penuh dengan lemari dan alas tidur yang digulung.

Kok asrama kayak gini, hampir mirip dengan tempat pengungsian yang sering lihat di Tv, kata Faruk dalam hati. Asrama putera berada di tingkat dua, sejajar dengan mushola dan ruangan kelas untuk SLTP berada di lantai yang sama. Dia menuju ke mushola, banyak juga santri yang tidur nyenyak di bawah kipas angin, di pintu utara mushola keluarganya berbincang dengan keluarga seorang santri baru.

“Nah ini anak saya pak, dia baru daftar juga loh.” Ayahnya memperkenalkan Faruk pada keluarga tersebut.

“Ayo nak kenalan dengan anak saya”

Faruk mengulurkan tangannya, “Namaku Muhammad al-Faruk, panggil aja Faruk, dari Bandung.”

“Salam kenal juga. Namaku Alwi, dari Losari Cirebon,” dengan logat jawa medok. Dari sinilah perkenalan di antara mereka semakin melebar.

Saat matahari mau berpamitan ke arah barat, bayang-bayang jejak keluarga mereka berdua sudah menghilang. Dari arah jalan barat pesantren datang tiga orang laki-laki dengan becak, yang satunya mengendarainya, sedangkan yang duanya jadi penumpang.

“Mail, Ardo, Hakim, cepetan daftar mau ditutup loh pendaftarannya,” teriak pak Ajat.

“Siap laksanakan pak,ha,ha, ha,” mereka bertiga tertawa dengan gembira. Pak Ajat hanya geleng-geleng kepala melihat reaksi mereka.

Tiga orang aneh tersebut mungkin santri terakhir yang mendaftar. Jadi jumlahnya ada 14 santri tingkat Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) pesantren Darunnajah. Adzan magrib telah berkumandang, asatidz dan para santri shalat berjamaah dengan khusyu. Sebuah ketenangan jiwa sedang dialami oleh seorang santri baru.

• ********

Hari pertama Masa Ta’aruf Santri memang terasa menyenangkan, semua peserta dari tingkat SLTP hingga MAK Nampak begitu bergembira. Semuanya harus nunduk pada perintah panitia, segala omongan panitia harus dilaksanakan. Itulah hari-hari awal di antara santri harus saling mengenal, begitu juga dengan senior, dan asatidz-asatidzah.

Hari pertama belajar yang mengagetkan bagi santri baru masalah sebuah papan sebagai pembatas pemisah belajar antara santriwan maupun santriwati di kelas, di kalangan santri lama biasa menyebut namanya hijab, yang artinya pembatas. Bagi Faruk, Alwi, Abbas, Ida, Ati, Runi, Viah, sebagai santri baru terasa aneh kalau hijab di pasang di kelas. Mereka berpikir, mungkin di antara mereka tidak bisa melihat lawan jenis pada saat belajar. Tapi bagi santri lama seperti Ardho, Hakim, Mail, Fikar, Rio, Wati, dan Sholehah sudah biasa dari SLTP hingga sekarang memakai hijab.

Perkenalan dengan wali kelas pun di mulai, seorang wanita berjilbab lebar memperkenalkan dirinya, biasa dipanggil mbak Diana. Setelah itu masing-masing santri mempenalkan diri secara lengkap hingga nomor sepatu berapa pun ditanyakan, ada-ada saja memang.

Saatnya pemilihan ketua kelas digelar. Sebelum pemilihan ketua, ada bursa nama-nama yang akan bermunculan. Nama Fikar, Mail, Faruk, dan Alwi masuk dalam bursa. Masing-masing calon berkampanye visi dan misi. Calon ketua yang unik ialah Alwi, ini dilihat dari orangnya yang sangat percaya diri malah ditertawakan oleh teman-teman sekelasnya. Akhirnya Alwi yang terpilih sebagai ketua. Setelah itu mereka mendeklarasikan angkatannya sebagai “Generasi Ketujuh adalah yang terbaik,” ya karena mereka ingin melakukan yang terbaik untuk agama dan bangsa ini.

Madrasah Aliyah Keagamaan mata pelajarannya lebih menekankan pada ilmu keagamaan dengan menggunakan bahasa arab, bagi yang lulusan bukan pesantren memang harus ekstra belajar. Menjelang ujian biasanya mereka menghapal setiap definisi dalam kitab-kitab piqh, ushul piqh, ulumul hadis, lmu tafsir, tafsir ahkam,dsb, walaupun gak tahu artinya apa. Mau jawaban pake bahasa Indonesia juga gak tahu harus nulis apa, paham juga gak. Mata pelajaran yang berteks bahasa Indonesia cuma matematika, bahasa Indonesia, dan sejarah peradaban Islam, ditambah lagi bahasa Inggris sebagai bahasa asing.

• *****************

Sepertiga malam sebagian santri begitu khusyu dalam shalat qiyamu lailnya (Tahajud). sebagian besar masih tertidur lelap di atas hamparan yang jelas bukan kasur, ya seperti sleeping blad, sarung buat shalat yang biasa dipake dijadikan alas tidur, posisi mereka berada di bawah kipas angin yang terus berputar setiap malam untuk mengusir rasa gerah. Karena di asrama tidak ada kipas angin, terpaksa pada tidur di mushola. Ada juga sebagian santri tidur d ruangan kelas, meja-meja belajar disulap menjadi sebuah ranjang yang gak empuk untuk tidur mereka.

Saat adzan shubuh berkumandang, satu per satu santri bangun, mereka pindah posisi tidurnya ke tempat lain, bahkan di halaman kamar mandi pun menjadi sasaran tempat tidur kedua setelah mushola.
Lantunan suara al-Qur’an pada pagi hari yang buta memang menyejukkan hati. Ketika sudah merasa cukup menghapal ayat-ayat al-Qur’an, Faruk menyandarkan dirinya pada serambi kanan mushola yang dapat melihat jalan raya. Sudah hampir setahun di pesantren ini, awalnya santri ada 14 orang berkurang menjadi 12 orang. Ida tidak kuat dengan pelajaran-pelajaran yang berbahasa arab, sedangkan Sholehah akhir-akhir ini kadang aneh sikapnya. Kabar burung, akhir-akhir ini dia sering diganggu oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang jelas diganggu mentalnya, jiwanya tertekan. Ya dia seorang mua’alaf, dan salah satu korban kerusuhan Ambon. Dia telah kembali pada ayah angkatnya yang muslim, dalam proses penyembuhan.

“Ruk, ngopi yuk, biar seger.”

“Wah boleh juga tuh dho.”

Faruk dan Ardho menikmati minuman kopi yang masih hangat. Lalu datang Alwi, Abbas, Fikar, Mail. Kebiasaan mereka minum kopi atau teh manis tiap pagi di ujung mushola. Wajarlah hampir tiap malam begadang, alasan minum kopi atau teh manis biar tidak ngantuk. Ya mereka pada malamnya suka masak nasi goreng, jadwal makan di tengah malam di dapur umum. Tetap saja mereka tidak kuat menahan ngantuk pada waktu belajar, ada yang tidur di atas bangku, ada juga pergi ke mushola warga desa setempat untuk tidur siang pas waktu belajar, biar tidak ketahuan oleh guru. Peristiwa yang unik dan terulang terus-menerus, pada saat mata Pelajaran Ilmu Tafsir oleh pak Oji dijadikan waktu tidur oleh anak-anak santriwan, kalau santriwati mungkin serius dengan mata pelajaran yang diajarkan oleh pak Oji. Dengan sabarnya pak Oji tidak pernah marah ketika di depannya hampir semua santriwan tidur saat jam belajar.

“Wah kita belum lengkap nih, si Hakim sama si Rio masih turu (tidur) tah?”

“Ah sira (kamu) kagak tau si Hakim ma bos Rio, mereka berdua kan abi naum fi mahad(bapak tidur di pesantren), “ Alwi menimpali Ardho.

“Eh, kita bangunin si Hakim sama si Rio yuk. Kita siram pake air, bikin kejutan, “ Usul Mail pada teman-temannya.

“He euh (iya), ide yang bagus,” jawab mereka kompak.

Ardho segera mengambil 2 ember yang berisi air penuh, dengan perlahan-lahan mereka mendekati tempat tidur Hakim dan Rio. Mereka menahan tawa, dengan hitungan 1,2,3 mereka menyiram kepala Hakim dan Rio, byurrrrr.

Hakim dan Rio kaget, hampir saja jantung mereka berdua copot. Mereka tertawa senang telah berbuat jail pada temannya. Mereka berlari menjauh dari kejaran Hakim dan Rio.

“Woi kalian pengecut, banci!!! Tunggu balasan dari gue,” Teriak Hakim.

Mereka terus berlari tiada henti, mengejar impian mereka tanpa batas. Ya akhirnya mereka naik kelas dengan nilai yang tidak mengecewakan. Mereka menamakan angkatanya sebagai generasi al-Harawiyyun yang siap membela harga diri Islam. Mereka ingin seperti murid-murid Nabi Isa as yang berjumlah 12 orang telah bersumpah akan mempertahankan Risalah-Nya yang di bawa oleh Nabi Isa sebagai utusan Allah, mereka juga menamakan diri al-Harawiyyun.

• **********
Ketika kelas dua, mereka tumbuh yang sangat berbeda pada waktu kelas satu. mereka sudah mengenal cinta dan potensinya masing-masing. Ya cinta dan potensi bagi mereka sebagai kekuatan yang sangat luar biasa. Dengan rasa cinta, mereka lebih maksimal mengembangkan potensinya masing-masing. Cinta terhadap lawan jenis adalah fitrah manusia. Mereka menjadikan rasa cinta pada seseorang sebagai pengembangan diri yang lebih positif. Beda dengan dengan remaja-remaja sebayanya menjadikan rasa cinta yang menjerumuskan pada lubang hitam, yang bernama hawa nafsu.

Ardho yang cerdik dalam menyusun skenario teater yang dapat memukau semua santri dan asatidz, malah dia adalah seniman di pesantrennya. Hakim yang mampu mengoperasikan progam computer, tepatnya TI, bahkan mereka berdua selalu berkombinasi dalam menyusun scenario teater dengan didukung oleh teknologi walaupun sangat sederhana. Hasilnya pada saat acara Pentas Kreasi Santri (PKS) sangat luar biasa, membuat para penonton terkagum-kagum atas teater tersebut. Memang Ardho orangnya unik, dan terkadang teman-temannya merasa aneh dengan ide-ide gilanya.

Sedangkan Alwi sangat tekun menghapal Qur’an, memang dia berbakat menjadi seorang ustadz. Abbas seorang mualaf dari Ternate, ingin menjadi seorang dai yang siap berdakwah di kampung halamannya. Rio yang berjiwa sosial dan memiliki kemampuan berbicara yang mengikat hati bagi yang mendengarkannya. Faruk lebih senang mempelajari sejarah pergerakan dan aspek pemikirannya, iya dia ingin jadi seorang aktivis gerakan mahasiswa yang memimpin demontrasi, kadang dia suka menulis tentang situasi politik nasional dengan analisa yang cukup tajam dan kasar. Tapi keinginan tersebut menjadi hal dilema baginya, secara keilmuan dia ingin melanjutkan kuliahnya di al-Azhar Kairo yang terkenal itu.

Ma’il digelari oleh teman-temannya The Adventure yang berkelana ke mana pun, bahkan pulau Kalimantan pun dia pernah menjelajahnya.

Menjelang hari pemilihan ketua OSIS, Ma’il mengusulkan untuk menjelajah pantai Babadan yang memiliki fenomena pantai yang indah.

“Terus gimana dong buat pemilihan ketua osis ntar gak jadi kalo kita jadi pergi menjelajah?” Faruk merasa khawatir akan kena sanksi dari pesantren.

“Wah kamu penakut ruk. Hakim aja sepakat gak bakalan hadir pas pemilihan,” celutuk Fikar.

“Gimana yah?” Faruk menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

“Kalo kamu ikut, kamu gak bakalan dibebani jadi pemimpin ruk. Biar si Rio jadi ketua, kita-kita bebas gak ada tanggung jawab,” lobi Ardho pada Faruk. Rio susah diajak kompromi oleh teman-temannyai. Mereka beralasan, seharusnya pesantren menghidupkan kembali OSIS yang sebenarnya masih dipegang oleh kelas 3. Bagusnya pemilihan ketua digelar ketika pengurus OSIS yang lama mau berakhir jabatannya.

Ardho, Alwi, Fikar, Abbas, Hakim, Ma’il,dan Faruk pergi ke pantai Babadan dengan sepeda. Tiba di pantai, mereka melepaskan bajunya, dan berlari melawan gulungan ombak yang terus menghantamnya. Mereka siap menghadapi tantangan-tantangan walaupun seperti gulungan ombak yang besar. Mereka berteriak, “wahai matahari dan lautan, saksikanlah bahwa kami adalah generasi yang terbaikk.”

Mereka menulis mimpi-mimpinya di atas pasir pantai yang lembut. “Ruk, kamu tulis apa?” Teriak Ardho.

“Aku ingin melakukan kebaikan dengan cara yang terbaik, selebihnya biar Allah yang urus. Yang terakhir aku ingin punya perpustakaan buku pribadi yang sangat besar. Semoga dua ambisi ini bisa mewujudkan cita-citaku ingin berkeliling dunia, mengunjungi situs-situs warisan peradaban Islam. Semoga terwujud, kawan.”

“Aku ingin jadi sutradara film yang terbaik,” balas ardho.

Mereka pun bergantian berteriak, meneriakkan cita-cita mereka, langit dan lautan pun jadi saksi atas suara cita-cita mereka yang tinggi. Bahkan mereka sepakat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi apapun kondisinya, ingin menjadi angkatan pertama yang bisa kuliah semuanya. itulah mimpi mereka, ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, mereka adalah anak-anak mimpi. Biar goresan ini akan selalu dikenang. Mereka saling berpegangan tangan dengan erat dan menyaksikan terbenamnya matahari di tepi lautan, fenomena alam yang sangat indah, mereka yakin pasti suatu saat mimpi-mimpi indah mereka akan tercapai.

Beberapa bulan kemudian, dengan alasan yang tidak bisa dipahami, akhirnya Ma’il pergi meninggalkan pesantren. mereka bukanlah generasi al-Harawiyyun lagi, karena berkurang satu menjadi sebelas orang.

Pembagian raport untuk kenaikan kelas tiga telah tiba, Wati lah yang selalu juara umum di kelasnya. Runi jago mengekspresikan puisi “Sajadah panjang” karya Taufik Ismail, dan “Aku” karya Chairil Anwar. Bulan kemarin pada saat perlombaan baca puisi karya-karya Taufik Ismail dan Chairil Anwar tingkat SMA/MA se Indramayu, Runi juaranya. Ati memang sangat serius menimba ilmu keagamaan, sedangkan Viah ingin bercita-cita seorang bidan.

Ustadz Yunus, sebagai pimpinan pesantren yang kharismatik, mengumpulkan semua santri menjelang liburan sekolahan, dan menekankan, “Jadilah kalian menjadi Pekerja keras, jangan harap jadi pegawai. Terus tatap masa depan, dan raihlah mimpi kalian…”

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (masa depan); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Hasyr; 18)

BERSAMBUNG…….Nantikan kisah selanjutnya..
******************************
revisi dari cerpen sebelumnya pada 17 JANUARI 2010 JAM 10.00 DI CILILIN

Iman Munandar (085294553964)

Dept. Kebijakan Publik KAMMI Daerah Bandung 2008-2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,838 other followers

%d bloggers like this: