Posted in Sastra

Pencarian Sebuah Kebenaran Spirtual

ImageRiki terbangun dari tidurnya, waktu telah menunjukkan jam 04.30 WIB bertepatan dengan suara yang baginya tidak aneh dari mesjid-mesjid di sekitarnya setiap hari lima kali suara berkumandang dengan merdu. Akhir-akhir ini jiwanya merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya ketika mendengar suara tersebut. Dia kembali tersungkur dalam selimut yang menyelimuti jasad dan hatinya selalu bertanya-tanya dibalik selimut tersebut.

Pagi yang cerah menandakan indahnya hari ini bagi dia, hari libur kerja. Bebas dari beban kerja. Hingga kini dia mencari-cari jawaban dari pertanyaan jiwanya yang resah. Dia bersiap-siap pergi , dia lupa nama acaranya apa? Bahasa arab yang tidak dimengerti! Mungkin seingat dia kalau tidak salah bahasa Indonesianya ialah WISATA RUHANI. Sebenarnya acara tersebut adalah progam khusus para Pegawai yang beragama Islam. Tapi dengan keingin tahuannya yang sangat tinggi, akhirnya teman-temannya yang berbeda agama dengan dirinya menerima kehadiran Riki dalam acara tersebut. Tentunya Riki untuk sementara waktu merasa aman dari pengawasan kedua orang tuanya, karena mereka berdua sedang keluar Negeri.

Riki duduk di kursi halaman rumahnya yang luas, dia termenung seorang diri, merasakan jiwanya yang semakin resah. Dia resah bukan karena kekurangan harta, keluarga, dan lain-lain. Dia mempunyaii kekayaan harta yang cukup dan bahkan lebih, dan reputasi keluarga yang cukup terkenal di kota Bandung, keluarga Hendarto seorang pengusaha yang sukses. HPnya berdering memanggilnya;

“Halo.. Riki gimana kabarmu pagi ini? Udah siap-siap berangkat? 15 menit lagi jemputan datang.”

“ya halo juga.. kabarku baik aja, ya aku tunggu, jangan pake lama.ok.”

15 menit kemudian telah tiba jemputan, Riki bergabung dengan rekan-rekan kerja di perusahaannya pergi bertamasya ke pangandaran. Dalam perjalanan mereka melepaskan beban kerja di tim divisinya dengan canda dan tawa. Dia tak menyangka ada seorang Ustadz yang jadi tamu tamasyanya suka melucu juga, terutama kisah 1001 malam yang populer. Ustadz tersebut hapal juga kisah Abu Nawas dikaitkan dengan kondisi kekinian. Benar-benar menarik.

Kini mereka telah menginjak kakinya di pantai pangandaran yang nan indah, mereka mempersiapkan alas duduk, lalu makan siang bersama-sama. Selanjutnya ke acara Ta’lim Ruhiyah yang akan diisi oleh Ustadz Abdullah Mansur, dimoderatori oleh Jalal rekan kerja Riki.

Ustadz Abdullah Mansur mulai menerangkan tentang keesaan dan mengenal Allah. Bahwa mengenal Allah bisa melalui dua cara. Pertama; melalui ciptaan-Nya(ayat-ayat kauniyah), dan kedua melalui kitab al-Qur’an (ayat-ayat qouliyah). “Bahwa Allah itu esa, tidak beranak dan peranakkan, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. “ Riki terhanyut dalam penjelasannya yang rasional tentang ketuhanan dalam Islam. Jujur hatinya merasa tentram dengan argumentasi disertai dalil-dalil al-Qur’an yang dibawakan dengan suara terasa sangat merdu. Dari hatinya yang terdalam, dirinya pernah melapalkan lafadz tersebut dan sering mendengarkannya waktu dulu. Tapi entah kapan dan di mana?

“Pak ustadz Mansur, bagaimana pendapat ustadz tentang yesus dalam Kristen dan Islam?” akal dan hatinya ingin mendapatkan jawabannya selama ini dicari-cari.

Rekan-rekannya kerjanya hanya tersenyum. Ada sesuatu harapan dibalik mata hitam mereka.

“Pada awalnya umat kristiani menganggap bahwa Yesus itu adalah manusia biasa. Namun pada perkembangan ada aliran yang menyatakan bahwa yesus itu adalah Tuhan. Ini diusung oleh uskup Aleksander dan asistennya Athanasius. Sedangkan Arius, seorang Imam Alexandria, menyebutkan bahwa Yesus bukanlah Tuhan yang tunggal, esa, transenden, dan tak tercapai oleh manusia. Yesus adalah ‘Firman Allah’ yang secara metaphor boleh disebut “Anak Tuhan” bukanlah Tuhan, tetapi makhluk, ciptaan, dan tidak kekal abadi. Karena kedua kubu saling menyerang dengan argumentasinya masing-masing, maka kaisar Konstantin mengadakan Konsili Necea melalui keputusan voting memenangkan kubu Athanasius yang mengesahkan ketuhanan Yesus. Itulah sejarah penyelewengan yang terjadi pada teologi Nasroni. Ini terjadi pada tahun 325 M .”

Ustadz Mansur terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “sedangkan Islam datang untuk meluruskan teologi semua agama samawi yang sudah terselewengkan, terutama konsep Trinitas. Islam menganggap bahwa Isa/Yesus itu adalah Rosul(utusan) Allah, bukanlah Tuhan. Allah adalah Tuhan yang Esa, bukan diperanakkan dan beranak. Sebagaimana Firman Allah;

1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

“….Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu[383], dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya[384] yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya[385]. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari Ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. cukuplah Allah menjadi Pemelihara..(QS. An-Nisa : 171)”

Setelah mendengar jawaban barusan, dia merasa begitu yakin bahwa konsep ketuhanan dalam Islam begitu sesuai dengan akal dan hatinya. Namun dia masih mempertanyakan apakah dirinya terlahir dalam keadaan Kristen atau agama Islam?

“Saudara Riki, bagaimana dengan jawaban barusan?”

“Oh ya tadz, terima kasih atas jawaban tadi.” Riki merasa puas, namun belum terjawab tentang dirinya siapa?

Ta’lim ruhiyah diakhiri, mereka pulang ke Bandung. Di tengah perjalanan saat rekan-rekannya tertidur, Riki memikirkan sesuatu. Sejak SD hingga kini, setiap pergi untuk kebaktian tiap pekan ke Gereja, jiwanya selalu berontak. Dia berpikir keras, mengacak memori akalnya tentang dirinya di masa lalu. Apakah benar dirinya terlahir dalam keadaan Kristen?

Dia mengacak terus memori ingatannya, ya ia ingat sesuatu sejak kecil. Masa-masa kecil ia hidup di tengah bukit-bukit yang nan hijau, perkebunan teh, sungai-sungai mengalir dengan beningnya, dan persawahan yang membentang hijau. Suara adzan dan lantunan ayat al-Qur’an pernah akrab bersama teman-teman seusianya. Tapi itu di mana, tidak tahu pasti.

“Rik, bangun.. dah nyampe depan rumah kamu tuh.” Jalal membangunkan Riki.

“ya, ya aku bangun. Terima kasih banyak yach teman-teman. Sampai ketemu lagi besok.”

Teman-temannya meninggalkan Riki seorang diri. Di depan rumah bapak Toni, pembantu rumahnya, menyambut kedatangannya. Riki memasuki halaman rumahnya yang luas. Dia ingin menanyakan sesuatu pada pak Toni, siapa tahu dia bisa membantunya untuk memulihkan ingatannya di masa lalu. Ya pak Toni telah mengabdi pada keluarganya selama 30 tahun lebih. Kini usia Riki 26 tahun.

“Pak, boleh nanya sesuatu?”

“Ya, boleh-boleh aja den.”

“Anu pak, apakah benar saya ini anak kandung pak Hendarto, ayah saya yang sekarang?”

Pak Toni terdiam, takut apabila sesuatu yang menimpa dirinya. Riki terus mendesak dan memberikan jaminan keamanan terhadap dirinya.

“Duh den gimana yach, kalo den Riki tuh anak adopsi pak Hendarto. Ceritanya panjang den Riki.”

“Kalau memang saya anak adopsi, omong-omong saya asal dari daerah mana yach?” Riki semakin penasaran dengan status dirinya.

Pak Toni diam sejenak, “kalo gak salah asal daerah den Riki dari Gunung Halu. Jauh banget den.”
Riki termenung seorang diri di kamarnya. Setelah mendengar penuturan dari pak Toni, dia ingin menggali terus misteri asal muasal dirinya dengan pasti. Siapakah dirinya yang sebenarnya?
**********************************
Keluarga Riki memberi kabar kepada dirinya, besok pagi akan tiba di bandara Soekarno Hatta dan minta dijemput. Riki mengumpulkan kekuatan untuk berani menanyakan asal muasal dirinya darimana? Dia tahu betul karakter ayahnya yang tegas. Dia siap menerima resikonya, apa pun resikonnya itu.

Kini Riki telah tiba di Bandara Soekarno-Hatta, dan menyambut kedatangan kedua orang tuanya dari negeri tetangga, Singapura. Mereka bertiga saling berpelukan dengan kasih sayang yang sangat. Maklumlah sudah lama hampir 2 bulan lebih lamanya kedua orang tua Riki pergi untuk berbisinis ke Singapura. Mereka bertiga pergi meluncur dengan mobil Volvo ke Bandung.

Riki menghidangkan dua air susu yang hangat untuk kedua orang tuanya di ruang tamu. Mereka bertiga berbicara dengan santai tentang seputar aktivitas bisnisnya di Singapura, dan seputar aktivitas Riki di tempat kerjanya. Sudah menjadi tradisi keluarga Hendarto melepaskan beban aktivitasnya masing-masing dengan obrolan dengan penuh canda dan tawa. Hati Riki tak kuat lagi ingin menyatakan tentang identitas dirinya, siapa sebenarnya?

“Yah, bolehkah saya bertanya sesuatu?” Wajah Riki mulai serius.

“Boleh, serius amat ki..” jawab ayahnya dengan santai.

“Apakah saya ini benar anak kandung ayah dan ibu, ataukah saya bukan anak kandung..?”

Bapak dan ibu Hendarto keduanya saling berpandangan menyiratkan kekagetan di balik dua mata mereka. Selama ini Riki tidak pernah menanyakan yang aneh-aneh seperti pertanyaan barusan. Keduanya bingung harus jawab apa. Mereka berdua terdiam, terasa berat mengucapkannya. Haruskah berkata dengan jujurnya? Bapak Hendarto mencoba mengumpulkan semua tenaganya untuk berani berkata jujur;

“Kamu bukan anak kandung ayah dam ibumu, tapi kamu adalah anak adopsi. Dan itu sah menurut agama dan hukum Negara kita. ”

Kini pertanyaan tersebut terjawab, namun dia ingin mendapatkan lebih jauh lagi. Siapakah kedua orang tuanya dan apa agamanya?

“Sekarang dimanakah kedua orang tua kandungku berada?”

“Mau ngapain kamu nanya kedua orang tua kandungmu, hah..” Hendarto membentak anak adopsinya.

“Apakah salah seorang anak mencari-cari kedua orang tuanya yang asli?”

Hendarto berdiam seperti patung tidak tahu mesti jawab apa. Dirinya bukanlah penganut agama yang radikal, ya dirinya adalah seorang demorat dalam memandang agamanya. Dia menerangkan masa lalu tepatnya 22 tahun yang lalu. Sudah hampir 3 tahun bersama sebagai suami istri, namun belum dikarunia anak. Setelah diperiksa oleh dokter bahwa istri Hendarto tidak bisa mempunyai keturunan. Sebenarnya Hendarto ingin berpoligami, namun dalm tradisinya mengharamkan berpoligami. Alternatifnya adalah mengadopsi anak. Mereka berdua pergi mencari anak ke pedesaan, tepatnya desa yang tertinggal, yaitu daerah Gunung halu memang daerah yang tertinggal. Akhirnya mereka membeli seorang anak laki-laki dari sepasang keluarga yang sedang dililit oleh hutang. Kini anak laki-laki tersebut telah tumbuh besar dan dewasa.

*************************************
Setelah mendapatkan keterangan dari Hendarto, Riki meluncur dengan mobil Jaguarnya ke tempat yang dituju. Dia sengaja menyembunyikan misi yang sebenarnya, yaitu melacak agama asalnya, tepatnya agama apa yang dianut oleh orang tuanya.

Tiba di Gunung Halu yang dikelilingi perbukitan dengan hutan yang lebat dan perkebunan teh yang membentang, aliran sungai yang mengalir dengan sangat bening, dan persawahan yang luas nan hijau, Riki memulai mengulang memorinya, mulai ada titik terang, benar ini adalah tempat asalnya sejak kecil, dan di ujung persawahan arah selatan ada rumah dan surau yang saling berdampingan. Apakah itu tempat tinggalnya dahulu?

Riki berjalan menuju arah selatan, ternyata masih ada rumah dan surau yang saling berdampingan. Dia tersenyum ketika dirinya sering berjatuhan di atas jalan persawahan yang becek, ingat pada masa lalunya yang indah. Dihadapannya seorang kakek memainkan seruling suaranya yang indah.

“Permisi pak..?”

“Ya, ada perlu apa?” bapak tersebut memberhentikan serulingnya.

“Apakah benar bapak yang bernama Adun?”

Kakek tampak kaget ada tamu yang datang menyapa kepadanya, seorang laki-laki yang berpenampilan necis, seperti orang kaya. Seumur hidup dia gak punya sanak keluarga yang mempunyai harta yang lebih. Kini dihadapan dia entah siapa?

“Muhun leres, ieu sareng saha nyak (iya betul, ini dengan siapa yach?”

Riki tersenyum sebagai isyarat kebahagiaan, kini telah bertemu dengan orang tua aslinya. Dia ingin segera menyatakan sesuatu.

“Bapak masih ingat dengan pak Hendarto 22 tahun lalu yang pernah datang ke sini untuk mengadopsi anak bapak?”

Adun mematung tak berkedip matanya. Dia ingat sepasang suami istri, berpenampilan seperti orang kaya, pernah datang kepadanya untuk mengadopsi anaknya. Sebenarnya dia tidak ingin anaknya diambil oleh orang lain, karena alasan ekonomilah dengan berat hati dia melepaskan anak lelakinya satu-satunya. Dirinya benar-benar bingung harus berbuat apa ketika istrinya sakit keras, dirinya hanyalah seorang buruh tani tak punya apa-apa. Di tempat tinggalnya hampir 89% buruh tani, atau pekerja kasar tak punya apa-apa. Anak-anak di desa ini entah menghilang kemana, sudah banyak yang tidak tahu nasib anak-anaknya (anak-anaknya para pekerja kasar) kini entah kemana. Ada yang ditawarin kerja keluar daerah dan negeri, banyak pula yang diadopsi oleh orang lain, seperti anak lelakinya. Alasannya Cuma satu; butuh uang.

“Saya anak yang diadopsi oleh pak Hendarto,” air mata membasahi pipi Riki.

Dia tidak menyangka akan bertemu dengan anaknya yang telah lama pergi. Dia ingin berteriak keras sebagai tanda kebahagiaan, bahwa anaknya kini telah kembali dengan keadaan lebih baik darinya. Dia ingin mengajak shalat berjamaah dengan anaknya dan ngaji al-Qur’an bersama, itu adalah kebiasaan lamanya.

“Bener ieu teh ujang Adul, putera bapak tea (Bener ini nak Adul, anak bapak)?

Riki kaget disebut nama Adul, mungkinkah ini nama aslinya?, “ya, benar saya anak bapak.”

Adun memeluk anaknya dengan erat sekali, dia merasa berdosa tidak bisa memelihara anaknya. Jika karena bukan alasan ekonomilah keluarganya tidak akan seperti ini. Istrinya sudah lama tiada, sekarang dia hanya hidup sebatang kara. Suara adzan berkumandang, dia ingin mengajak kebiasaan lamanya, shalat berjama’ah.

“Dul, kita shalat berjama’ah yuk.”

Riki terdiam, dia belum menceritakan tentang agamanya yang selama ini dianutnya. Bahwa dirinya bukan seorang muslim. Dia ingin kembali ke agamanya semula (Islam).

“Maaf pak, saya tidak bisa shalat. Saya selama ini menganut agama Kristen.”

Adun kaget dengan agama anaknya sekarang, ibarat petir di siang bolong, dia merasa telah berbuat dosa besar membiarkan anaknya pindah agama. Dia terus mengucapkan istigfar berkali-kali, ya dia telah berbuat dosa.

“Sebenarnya saya datang kemari ingin mengetahui asal agama saya, dan mulai hari ini saya ingin berpindah agama lagi, agama Islam.”

Keduanya saling berpelukan, rasa sedih dan bahagia menyelimuti keduanya. Adun merasa sedih telah melantarkan anaknya, sedangkan Riki menyesal agama yang dianutnya selama ini. Rasa bahagia, Riki sudah bertekad ingin kembali ke agama asalnya. Besok dia akan menghadap ke Ustadz Mansur, mengucapkan dua kalimat syahadat. Biarlah dirinya di caci maki oleh keluarga Hendarto, karena perpindahan agamanya, dia siap menerima segala resiko ini, yang penting baginya ingin tetap menjadi muslim kembali, Kembali ke fitrahnya.

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Kedua orang tuanya lah yang menentukan dia Nasroni, Yahudi, dan Majusi.” –Al Hadist-

Iman Munandar, AB3 KAMMI (Anggota biasa-biasa bae)

Cililin, 23:30, 06-06-2010.

** catatan; cerpen ini hanya mengenang teman saya yang baru masuk Islam (mualaf) satu tahun yang lalu. Dia diadopsi oleh orang kristiani yang kaya. Kini dia telah kembali ke agamanya semula (Islam). Semoga tetap istiqomah. Amien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s