Posted in Inspirasi Kehidupan

Zainab Al-Ghazali (Mengenang Puteri Kami)

Image

Sepasang  suami-istri pernah mengalami masa-masa indah, dan juga masa-masa kelam. Setiap pasangan suami-istri akan selalu mengenang bayinya yang telah tiada. Hal itu pula pernah dialami oleh saya dan istri saya.

Setelah sebulan kami menikah, kabar gembira itu datang, al-hamdulillah istri saya positif hamil. Saat itu juga saya mulai memperhatikan istri dan kandungannya agar selalu sehat. Setiap sebulan sekali kami berdua rutin memeriksa kandungan istri, senang rasanya melihat (melalui USG) sang janin sehat dan normal.

Seiring waktu semakin bertambah, gerakan sang janin bisa dirasakan oleh kami berdua. Kami berdua selalu mengajak ngobrol, sang janin merespon dengan gerakannya di dalam kandungan istri saya. Walaupun kami berdua tidak mengerti respon gerakannya, yang jelas kami berdua sangat bahagia. Ketika kami berdua sedang membaca al-ma’tsurat atau al-Qur’an, sang janin merespon dengan gerakannya yang unik. Bahkan ketika kami berdua terlelap tidurnya karena kelelahan, sang janin membangunkan kami berdua untuk shalat shubuh. Saat saya marah pada istri karena sesuatu hal, sang janin merespon dengan gerakannya yang unik menetramkan hati saya. Itulah saat-saat kami berdua bahagia. Jika bayi  itu lahir perempuan, saya dan istri saya sepakat memberi namanya Zainab Al-Ghazali, diambil dari tokoh Ikhwanul Muslimin. Jika laki-laki, belum punya nama.Sempat istri saya darahnya tinggi mencapai 160, tapi al-hamdulillah turun lagi ke angka itu normal 130.

Pada tanggal 3 February 2013 kami pindah ke Cipanas Cianjur, bertepatan dengan ulang tahun saya, sang janin pun masih bergerak. Esok harinya kami pergi ke bidan, bayinya sehat dan normal. Pada hari jum’at sampai hari minggu sang janin tidak bergerak lagi, pada awalnya kami sempat curiga. Karena sabtu-minggu dokter prakteknya tutup, hari seninnya kami pergi ke dokter kandungan. Setelah diperiksa oleh dokter, dokter menyatakan jika sang janin telah tiada. Kami masih tidak percaya, kami dan keluarga pergi ke dokter kandungan lainnya, ternyata hasilnya sama. Saya dan istri syok, saya merasa kasihan pada istri saya ketika sang janinnya telah tiada, ditambah lagi Ibu mertua saya  telah tiada saat istri hamil 3-4 bulan.

Pada malam itu juga, 11 February 2013, kami dan keluarga masuk RSUD Cianjur, karena harus segera dilahirkan. Pada malam yang hening, saya memohon pada Allah Swt untuk menghidupkan kembali jasad sang janin kami, kalau Dia memang Tuhan yang Maha Menghidupkan dan Mematikan. Dengan butir-butir air mata ini, saya sangat memohon kepada Allah Sang pencipta Alam untuk menghidupkannya kembali. Istri saya terbaring dengan lemah d ruang rawat. Di depan istri saya harus tegar untuk menghibur istri saya, namun hati terdalamnya saya tahu dia sangat terpukul dengan ujian ini. Darah tingginya mencapai 220, dan saya pun tidak tega melihat istri seperti ini. Walaupun keluarga besar dan teman-teman mendoakan istri dan saya agar sabar,tabah, dan segera sang janin keluar dari rahim, hati saya masih sangat terpukul. Dan memohon sekali lagi pada Tuhan Maha Penyayang untuk menghidupkan kembali jasad sang janin kami.

Pada hari kedua malamnya, saya menyadari jika Allah itu Maha Mengetahui apa yang tidak kami ketahui. Pada sepertiga malam yang hening, saya memohon ampun pada Allah Swt. Atas tindakan doa saya yang melebihi tindakan Nabi Musa ketika bersama Nabi Khidir. Saya pasrah atas ujian ini, dan bersabar atas rencana Allah yang lebih baik lagi buat kami berdua, dan memohon kepada Allah Maha Kuasa alam ini untuk mengeluarkan jasad sang janin dari rahim istri saya. Pada saat adzan subuh bergema, al-hamdulillah istri saya melahirkan jasad sang janin dengan normal, dan ternyata dia seorang perempuan yang cantik dan mungil. Kami memberi namanya Zainab Al-Ghazali, diambil dari tokoh ikhwanul muslimin yang luar biasa pada era dictator Gamal Abdul Nasser. Semoga engkau wahai puteriku yang tercantik menjadi penghuni Surga Allah, dan bergabung dengan golongan para Nabi, Sholihin, Shodiqin, dan Syuhada. Kami berdua sangat merindukanmua, dan memohon pada Allah Swt. Maha Pengampun lagi Maha Penyayang agar bisa bersamamu lagi di Surga kelak. Amiin.

Cipanas, 31 Maret 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s