Posted in Inspirasi Kehidupan

ANAK-ANAK MIMPI (Sebuah Catatan Inspirasi)

Gambar

 Dalam tulisan ini saya akan bercerita pengalaman perjalanan saya selama hidup di dunia pesantren. Jika teman-teman pernah membaca novel NEGERI LIMA MENARA karya A. Fuady , mungkin ada perasaan ingin pesantren di Gontor yang terkenal dengan unggulan bahasa internasionalnya. Begitu pun saya, terkadang menyesal kenapa tidak pesantren di sana saja. Pesantren yang saya ceritakan ini sangat jauh berbeda dengan pesantren yang kualitasnya bagus mungkin seperti pesantren Gontor, pesantren Husnul khatimah, dan sebagainya.

Saya masuk pesantren sebenarnya ketika saya masih SD, setiap liburan sekolah dimanfaatkan untuk pesantren baik selama seminggu maupun selama sebulan. Terakhir kali waktu saya pesantren sejak SD di daerah Cipongkor (masih kewedanaan Cililin) menghabiskan perjalanan selama tiga jam dari rumah walaupun masih daerah kewedanaan Cililin. Insfastruktur transportasinya yang masih jelek, dan harus melewati danau Saguling. Kata kedua orang tuaku tahap percobaan, biar nantinya terbiasa hidup di pesantren.

Setelah REFORMASI meletus saat itu juga saya sudah masuk pesantren yang terkenal di daerah Cililin. Saya masuk kelas satu MTS (Madrasah Tsanawiyah setingkat dengan SLTP), itupun juga keinginan orang tua. Jam belajarnya yang padat membuat saya stress dan ingin bebas dari disiplin pesantren. Dari jam 4 shubuh hingga jam 6 kurang shalat berjamaah, wirid, dan mufrodat (menghapal kosa kata bahasa arab dan membuat kalimat). Masuk kelas jam 06.20 hingga jam 14.00, ashar ada kegiatan sorogan (kajian kitab kuning) menjelang magrib. Dari magrib sapai isya pun diisi dengan kegiatan durusul lughah (bahasa arab) kadang muhadhoroh (latihan pidato). Setelah isya sampai jam 10 malam seluruh santri wajib belajar. Bahasa keseharian pun memakai bahasa Arab dan Indonesia, waktu itu pesantren tersebut tengah mengadopsi system pesantren Gontor karena ada beberapa alumni Gontor dan al-Amin Madura menjadi staff pengajar di sana.

Karena saya masuk MTS mata pelajarannya sangat banyak, kalau tidak salah ada sekitar 30 lebih mata pelajaran yang membuat saya malas belajar di pesantren ini. Jadi hal yang wajar jika waktu penerimaan raport saya ranking 1 kebelakang (terakhir). Raport saya pun dibandingkan dengan teman saya yang masuk SLTPnya ranking terakhir, nilainya pun tidak jauh berbeda. Saya juara bertahan ranking 1 kebelakang hingga sampai lulus MTS.

Hal yang unik di pesantren adalah masalah kebersihan. Apalagi barang seperti sandal, piring, dan gelas adalah barang yang paling cepat hilangnya, entah ada yang ngambil tanpa ijin mungkin. Pernah suatu saat ketika teman-teman santri sekamar piring pada hilang semua, terpaksa memakai ember untuk menampung makanan mereka.

Masalah air pun sama, tidak seperti air yang terdapat di rumah teman-teman. Airnya berwarna hijau karena berasal dari gunung. Apabila musim kemarau tiba air dari gunung pun mengering dan pada akhirnya terpaksa mandi sambil berenang di balong (kolam) dekat Masjid yang biasa dipake wudhu dan tempat nyuci. Balong tersebut biasa dikuras setahun sekali. Jika airnya lancar, kadang di kamar mandi diisi dengan maksimal sepuluh santri, karena kamar mandi besar. Pernah suatu saat kakak kandung saya bersama teman-teman kuliahnya dari AKL (Akademi Kesehatan Lingkungan) mengadakan penelitian kaget melihat keadaan lingkungsn kebersihan pesantren.tersebut. apalagi jika WC macet, harus berpikir keras mau buang hajat di mana.

Saya menilai wajar, karena saat itu pesantren lagi kesulitan dalam masalah keuangan, apalagi lagi masa transisi reformasi, dan ditambah para keluarga santri kebanyakan kelas menengah ke bawah. (sekarang alhmdulillah pesantren tersebut lebih bersih lagi, keponakan saya betah jadi santri di pesantren tersebut)

Tak terasa tiga tahun di sana akhirnya saya lulus. Impian saya ingin masuk ke STM Pembangunan (sekarang SMKN 1 Cimahi) tidak terwujud, karena nem saya yang sangat tidak cukup masuk ke sekolah negeri.

Dengan tidak ada pilihan lagi, saya pun masuk pesantren lagi. Kali ini saya masuk pesantren di Indramayu. Itu pun karena ada mantan Pembina saya dulu pada saat saya ikut pesantren waktu SD, disamping karena tertarik yang ada di brosur itu.

Saya pun resmi jadi santri di pesantren Indramayu, sedih ketika keluarga pergi meninggalkan saya. Keadaan pesantren ini lumayan bersih, di tengah perumahan penduduk, dan berada di pusat kota pemkab Indramayu.

Saya kaget ternyata pesantren ini kecil. Di brosur disebutkan fasilitas olah raga lengkap, memang seperti lapangan sepak bola, dan voli ada, tapi itu pun milik penduduk setempat yang tidak jauh dari pesantren. Tempat berenang ada, itu pun juga harus pergi ke tempat kolam renang di komplek perumahan pertamina, kalau tidak ya harus ke pantai Balongan Indramayu. Begitu asramanya santri hanya sebesar kelas tanpa adanya meja dan kursi. Karena hawa yang panas, kami lebih senang tidur di bawah kipas yang berada di mushola, yang lokasinya tinggal selangkah ke asrama berada di lantai dua.

Santrinya pun sedikit. Pada saat saya kelas 1 MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan) pesantren satu kelas Cuma ada 14 orang, 8 ikhwan dan 6 akhwat. Kurikulumnya pun hampir 60% buku pengantarnya bahasa arab. Ini yang jadi repot, terutama yang bagi mereka dari umum. Menjelang uas kami harus menghapal teks bahasa arab, karena soalnya memakai bahasa arab gundul. Saat itu juga kami rajin menghapal al-Qur’an, saya pun dengan kemampuan terbatas satu satu tahun bisa menghapal 2 juz. Itu pun karena saya ingin kuliah di al-Azhar Kairo, salah satu syaratnya minimal hapalan 5 juz, itu yang saya dengar. Bahasa keseharian pun hanya bahasa daerah (sunda dan jawa) dan bahasa nasional. Tidak seperti pesantren Gontor memakai dua bahasa internasional.

Kegiatan pun seperti biasa jadwal kegiatan pesantren. Membuat saya merasa betah di sana karena adanya perpustakaan yang kebanyakan bukunya punya Kiayi pesantren. Saya pada awalnya sering banyak membaca buku-buku tentang Ikhwanul Muslimin. Hal ini yang menarik saya terhadap gerakan IM yang mempunyai orientasi mengembalikan kejayaan Islam. Inilah yang selama ini saya cari-cari. Saya pun terpukau dengan tulisan-tulisan as-Syahid imam Hasan al-Banna.

Tidak puas dengan buku-buku tentang IM, saya pun mencari buku-buku yang bagi saya harus sesuatu pengetahuan yang baru. Pemikiran para pembaharu gerakan Islam itu yang menjadi minat saya. Saat itu juga mengenal gagasan pemikiran Moh. Iqbal, Hasan al-Banna, sayyid Quthb, Abu ‘ala Maududi, imam Khoemeni, Ali Syariati, Karen Amstrong (orientalis), dan sebagainya. Biasanya kalau tidak di perpustakaan pesantren, mencari perpustkaan punya pemda, dam kadang jika liburan selalu dijadwalkan mampir ke Palasari beli buku. Saat itu pula saya mengenal demokrasi, humanisme, komunisme, etc, dan saya sering melontarkan gagasan tersebut di kelas. Ringkasnya politik, sejarah, dan pemikiran kontemporer menjadi minat saya. Kami sekelas pun suka berdiskusi tentang politik kekinian, kebetulan salah satu Pembina pesantren sebagai ketua KAMMI komisariat Unwir.

Diskusi politik menjadi sesuatu yang penting bagi kami sekelas, walaupun sebagian ada yang tidak mengerti tentang politik. Karena seringnya kelas kami berdialetika tentang politik Islam dan Demokrasi di Indonesia, akhirnya lahirlah pesta demokrasi modern pertama di pesantren kami. Layaknya seperti pilpres, ada debat calon, kampanye calon, dan akhirnya hari pencoblosan.

Buku-buku karya Ali Syariati (salah satu arsitek REVOLUSI ISLAM di Iran) lah yang membuka cakrawala wawasan saya. Ali Syariati lulusan Universitas Sorbonne Perancis dakam bidang sosiologi. Saya pun ingin kuliah di universitas Sorbonne mengambil ilmu pengetahuan di luar pengetahuan agama. Begitu juga teman-teman sekelas semuanya ingin melanjutkan kuliah non agama. Walaupun pesantren mereka tidak sehebat pesantren yang lainnya secara kualitas sangat bagus.

Saat kelas 2 jumlah santri kelas kami berkurang menjadi 12 orang. Kelas kami dijuluki oleh Ustadz sebagai generasi al-Harawiyyun (pengikut nabi Isa yang berjumlah 12 orang) yang siap mengabdi untuk agama di manapun berada. Mereka punya minat dan bakat masing-masing, terutama salah satu teman saya yang mempunyai bakat dalam seni suka membuat teater yang berbau politik saat Pentas Kreasi Santri (PKS). Gagasan seninya luar biasa walaupun tanpa adanya guru seni dan fasilitas yang sangat sederhana.

Hal yang menggembirakan ketika ada undangan dari para pejabat pemkab Indramayu untuk mendoakan mereka. Para santri dijemput, dan mereka sangat semangat mendoakan para pejabat, karena hidangan makanannya menurut takaran kaum santri sangat lezat. Biasanya makanan seharian yang nikmat bagi kami makanan rumbah (toge dan kangkung dicampur sambal ditambah gorengan). Jika uang kiriman dari orang tua tiba, sudah menjadi tradisi bagi kami sekelas (ini mah ikhwan only) patungan beli ikan laut untuk dibakar dan minuman 4 botol fanta, sprit, dan coca cola dengan ukuran besar sambil begadang.

Pernah suatu saat ada perlombaan siswa SMA/MA se Indramayu. Karena pesantren kami sangat kurang kegiatan ekstrakurikulermya, dengan semangat yang menyala-nyala teman-teman kami siap maju. Saya kebagian lomba kaligrafi, yang lainnya kebagian pidato bahasa asing, MTQ, etc. perlombaan telah tiba, saya merasa malu melihat peserta lomba di sekitar saya memakai peralatan kaligrafi yang lengkap, sementara saya hanya memakai spidol warna yang ujungnya dipotong miring dan tulisan kaligrafinya pun sangat jelek dibandingkan dengan lainnya. Begitu teman saya bagian pidato bahasa asing, sebelum lomba, persiapannya cuma menulis pidato bahasa Indonesia lalu diterjemahkan ke bahasa inggris, itu pun dengan mencari kosa kata dari kamus. Singkat cerita dari kelompok pesantren kami gak ada yang juara, juara harapan pun tidak ada yang dapat.

Pada saat kelas tiga adalah masa-masa kehilangan teman dekat dan guru terbaik. Jumlah teman sekelas merosot menjadi 9 orang, 5 ikhwan dan 4 akhwat. Sementara guru matematika Cuma masuk minggu pertama selebihnya sudah tidak masuk lagi, guru bahasa inggris karena diangkat menjadi pns lebih sibuk menjadi pnsnya, dan guru bahasa Indonesia yang sangat disayangi oleh kelas kami harus pergi ke Bandung entah tahu kenapa. Guru pengganti bahasa Indonesia bukan ahlinya. Menjelang UAN kami sekelas belajar keras dengan mandiri hanya mengandalkan buku Ebtanas SMA, itu pun hibah dari orang lain untuk pesantren. Kami sekelas sudah sepakat harus lulus UAN dan melanjutkan kuliah. Apalagi 3 mata pelajaran tersebut menjadi persyaratan kelulusan. Dan karena sekelas kami hanya berjumlah 9 orang, itu pun secara persyaratan tidak lengkap. Karena syarat untuk ikut UAN dengan minimal 10 murid. Itulah yang kami khawatirkan tidak bisa ikut UAN, dan harus ikut tahun depan lagi. Apalagi MAK akan dihapuskan oleh Depag, jadi kami ini generasi terakhir MAK. MAK dirubah menjadi MA dengan jurusan ipa, ips, bahasa, dan keagamaan. Karena adik kelas jumlah kurang dari 15 orang, mereka memilih jurusan IPS hingga saat ini.

Alhamdulillah dengan pertolongan Allah kami pun bisa ikut UAN. Kami sepakat untuk saling membantu dalam UAN ini, agar kami sekelas bisa melanjutkan kuliah. Terkadang kami iri dengan teman-teman  kami yang belajar di sekolah-sekolah favorit yang jaraknya dua km dari pesantren bisa ikut les dan bimbel dengan maksimal. Sementara kami tidak bisa ikut les, bimbel dan try out (pernah ikut sekali try out). Semangat belajar kami tetap menyala, dan dukungan moril dari penghuni pesantren pun sangat membantu kami sekelas.

Perlu diketahui para santri pesantren ini kebanyakan kelas menengah ke bawah. Bayar SPP pesantren kebanyakan para santri menunggak, jadi banyak para guru pesantren baru digaji beberapa bulan kemudian. Apalagi gaji guru honorer sangat kecil. Pihak pengelola pesantren bingung bagaimana caranya biar asap dapur pesantren tetap ngebul. Terkadang pihak pesantren meminjam uang dari tetangga pesantren. Jika ada yang ngasih beras untuk pesantren suatu nikmat dari Allah yang harus disyukuri.

Satu bulan menjelang UAN alhmdulillah guru Matematika mengajar kembali, begitu pula guru bahasa inggris dengan sisa waktu istirahat dimanfaatkan untuk mengajar bahasa inggris pada malam harinya. Guru bahasa Indonesia pun didatangkan dari sekolah lain. Pada akhirnya kami lulus, dan harus mengulang mata pelajaran sosiologi yang tidak lulus, karena gurunya bukan ahli dalam sosiologi.

Akhirnya kami sekelas sepakat untuk melanjutkan kuliah, dan mayoritas ingin mengambil jurusan non PAI. Sementara saya ingin melanjutkan kuliah di al-Azhar Kairo, karena alasan financial saya pun lebih memilih kuliah di Unisba karena ada progam kembaran Syari’ah dan Ilmu Hukum (kuliah dua jurusan) yang nantinya dapat dua gelar, dan berharap bisa kuliah lagi di luar Negeri. Teman-teman sekelas ada yang mengambil jurusan kebidanan, ekonomi manajemen, ilmu hukum, ITI, konseling pendidikan, sastra, dan ekonomi syari’ah. Semuanya kuliah di swasta, karena saat itu kami sekelas tidak tahu info UMPTN kapan dilaksanakan. Ketika mau daftar, sudah telat. Ini pun sebagai pelajaran buat adik kelas kami agar bisa menggapai pendidikan yang lebih tinggi lagi, dengan kondisi ekonomi apapun mencari ilmu haruslah prioritas.

Iman Munandar…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s