Posted in Sastra

CINTA YANG KEDUA

GambarSore hari ditemani hujan deras, tetesan air hujan sedikit demi sedikit melubangi batu yang besar dan kokoh. Sore ini di dalam hatiku terdapat lubang, lubang hati yang tersakiti. Hatiku remuk… diriku hilang bentuk.

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut,
Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelapak elang
Menyinggung muram, desir hari lari berenang
Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
Dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
Menyisir semenanjung, masih pengap harap
Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
Dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
(dikutip dari puisi Chairul anwar, yang berjudul senja di pelabuhan)

• * *********
Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu berencana menaikkan kembali harga BBM di tengah kemiskinan menimpa rakyat Indonesia. Dengan alasan untuk menahan agar APBN tidak jebol, dan subsidi untuk BBM dikurangi. Pemerintah KIB dihujani kritikan dari sana-sini, yang dinilai kebijakan tersebut tidak pro rakyat.

Aku adalah salah satu mahasiswa dari elemen gerakan mahasiswa yang mengkritisi rencana kebijakan pemerintah. Alasan pemerintah menaikan harga BBM di tengah mahalnya harga minyak dunia memang logis. Ada sesuatu yang ganjil pada Republik ini, yaitu kesenjangan social. Kehidupan para birokrat pemerintah yang mewah, rakyat hidup miskin. Wakil rakyat jalan-jalan keluar negeri dengan alasan study banding, para koruptor masih menghirup udara bebas, perusahaan asing tanpa malu menggeruk kekayaan alam Republik ini. Pemerintah membiarkan hal ini terjadi, malah pemerintah dengan gagah beraninya memberikan beban berat pada rakyat yang kian melarat tak berdosa.

Alasan inilah yang menggerak hatiku untuk segera mengkonsolidasikan semua gerakan mahasiswa untuk menentang kebijakan tersebut. Bukan karena saya sebagai Presiden Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Islam Bandung (KM UNISBA), siapa pun dan apa pun statusnya wajib menentang kebijakan yang merugikan hidup rakyat banyak, kalau memang mereka masih mencintai negeri ini.

Rapat kordinasi antar gerakan mahasiswa se Bandung memang alot dan terbelit-belit. Akhirnya semua sepakat, hari esok akan pergi aksi ke Istana Negara untuk menentang kebijakan pemerintah.
Ratusan peserta aksi yang menamakan diri sebagai Aliansi Barisan Rakyat telah berkumpul di bunderan HI Jakarta. Mereka mengibarkan bendera aksi dan spanduk yang menuntut agar pemerintah segera membatalkan rencana kebijakan tersebut. Aku berorasi dengan berapi-api untuk membangkitkan perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Secara tiba-tiba aparat keamanan membubarkan aksi tersebut secara paksa dan refresif. Barisan peserta aksi kacau, lari terbirit-birit mnyelamatkan diri. Dengan kepala terluka, aku lari guna menghindar dari kejaran polisi.

Esok harinya aksi gerakan mahasiswa semakin semarak di berbagai kota. Setiap hari terus aksi, pemerintah kewalahan menghadapi aksi gerakan mahasiswa yang kian massif. Pada akhirnya pemerintah membatalkan rencana kebijakan tersebut. Semua gerakan mahasiswa bersorak gembira dan sujud syukur.
• * * * * * * *
Kongres Keluarga Mahasiswa UNISBA kini telah usai, jabatanku telah beralih pada Presma terpilih. Serah terima jabatan tengah berlangsung;

“Aku serahkan amanah ini kepadamu, semoga periode kabinet pimpinan kamu lebih baik dari periodeku,” ucapku pada Heri sebagai Presma terpilih.

“Aku terima amanah ini dan siap melaksanakan amanah kongres ini. Terima kasih atas didikannya selama ini kak Amri,”

Tepuk tangan dari peserta kongres membahana ruang kongres. Aku memeluk Heri dengan rasa persaudaraan yang erat. Aku dan Heri berasal dari gerakan mahasiswa yang berbeda.

Hpku menerima pesan dari Wafi, adik kelas waktu Madrasah Aliyah di pesantren;

[ aslm. K’Amri, gmn hsl kongres? Kak, bsk bisa ketemuan jam 1 siang di tempat biasa? Ada hal yg sngt urgen dbcrkn. Afwn gak bs via sms.waslm]

Ada sesuatu yang aneh pada sms dari Wafi, tidak seperti biasanya seperti itu. Segera membalas sms tersebut;

[w3.alhmdllh lncr. Insya allah bisa]

Di Waroeng Steak 21 yang terletak di taman sari atas. Tempat biasa aku dan Wafi bertemu dan menghilangkan kejenuhan beraktivitas. Diantara kami berdua bukan pengangguran, kami berdua adalah aktivis. Aku lebih terlibat dalam dunia gerakan mahasiswa, sedangkan dia lebih aktif pada lembaga penilitian ilmu pengetahuan di ITB. Jika liburan tiba, seperti biasa aku mampir ke rumahnya di cililin. Berjalan berdua di persawahan yang dikelilingi bukit terasa indah dan nyaman untuk menghilangkan hiruk pikuk kejenuhan menjadi aktivis gerakan. Dialah wanita di belakangku yang selalu mensupport api perlawanan yang mengaliri dalam sanubari.

Seorang muslimah yang anggun sekarang berada di depan mejaku. Seperti biasa kami berdua ngarumpi seputar pengalaman aktivitas di kampus masing-masing. Kulihat raut wajahnya ingin menyatakan sesuatu yang sangat serius.

“Kak, aku ingin menyatakan sesuatu, tapi aku berharap kakak jangan marah,” Wafi memulai menyatakan sesuatu yang sangat serius.

“Katakanlah Wafi, insya Allah aku gak bakalan ngambek”

“Sebelumnya terima kasih banyak atas perhatian dan bantuannya selama ini. Alhamdulillah dengan bantuan kakak aku bisa masuk ITB. Aku sangat kagum dengan kepribadian dan prestasi kakak di dalam dunia gerakan mahasiswa. Aku senang bisa belajar berpolitik dari kakak. Tapi…,” kata-kata Wafi
terhenti sejenak dan menundukkan kepala ke bawah. Aku sangat menunggu lanjutan kata-katanya.

Dia menaikkan kembali wajahnya menghadapku dan melanjutkan lagi; “ Tapi kakak adalah orang kedua yang hadir dalam hatiku ini, orang pertama dalam sanubariku kini telah kembali hadir dari al-Azhar Kairo. Tiga hari yang lalu dia datang melamarku. pekan depan, aku dan dia akan menggenapkan din (nikah). Andaikan Islam menghalalkan poliandri bagi seorang wanita, aku siap menerima kakak sebagai suami kedua. Tapi Islam mengharamkannya. Maaf telah berkata dengan lancang.”

Ingatanku kembali berputar ke masa lalu. Saat duduk di kelas 3 Madrasah Aliyah ada teman sekelas yang sangat luar biasa, dia sang juara di pesantren, disusul oleh Wafi urutan kedua, namanya Danny Ramdhani. Kata orang, mereka berdua adalah pasangan yang sangat serasi. Setiap ada acara pentas kreasi santri (PKS) aku cemburu ketika mereka berdua menjadi buah bibir para santri, bahkan sangat cemburu lagi ketika keduanya berpidato bahasa arab yang sangat memukau di hadapan seluruh santri dan asatidz. Kuingin seperti Danny sang juara, tapi itu tidak pernah terwujud. Aku hanya santri yang biasa-biasa saja.

Ketika pelepasan alumni pesantren angkatanku usai, kulihat mereka berdua berbincang-bincang dan saling memberikan kenang-kenangan sebagai tanda perpisahan, ya Benny telah diterima di Al-Azhar Kairo Mesir. Sedangkan aku diterima UNISBA. Sejak itulah aku mengambil kesempatan mengambil hati Wafi. Pada awalnya memang sulit, segala kesulitan itu pasti ada kemudahan. Setelah dia lulus, dia bingung akan melanjutkankan kuliah kemana? Karena kedua orang tuanya tidak mengizinkanya kuliah keluar negeri. Aku diundang oleh pihak pesantren untuk presentasikan tentang Universitas-universitas di Bandung. Sejak itulah aku memberanikan diri menawarkan dia untuk melanjutkan kuliah di ITB jurusan Kimia, karena dia sangat menonjol di bidang kimia. Kebetulan antara UNISBA dan ITB jaraknya berdekatan, dan itu adalah kesempatan bagiku. Akhirnya dia menerima tawaran kuliah di ITB tersebut.

Sejak sama-sama kuliah di Bandung, komunikasi antara aku dan dia semakin lancar. Ketika dia dalam kesulitan, aku selalu membantunya. Setiap akhir pekan selalu berolahraga bareng di sabuga, dan dilanjutkan dengan berbincang-bincang di waroeng steak 21. Ini sudah berjalan hampir 4 tahun. Aku sangat berharap sekali semoga cinta ini bertahan hingga akhir waktu. Kini harapan itu hancur lebur, ternyata hati dia masih menyimpan nama Danny.

Dengan menahan air mata, aku menjawab; “Jika itu adalah pilihan yang terbaik bagimu, Maka pilihlah. Karena cinta suci timbul dari dua hati yang saling mencintai, bukan dari keterpaksaan. Semoga Allah memberikan berkah bagi pernikahanmu. Oh y, karang aku harus pergi, ada agenda lagi. Wassalam,” aku terpaksa berbohong untuk menutupi rasa sakit ini. Aku meninggalkan dia sendiri yang terus menatap diriku yang kian jauh.

Keperkasaan yang kumiliki selama ini ambruk oleh kata-kata barusan yang memang sangat menyakitkan. Rasa cintaku pada dia kini hancur lebur. Kisah cintaku telah berakhir. Aku bukan pilihan. Aku berjalan sendiri tanpa arah. Kini hidupku terasa hampa;

Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti
Sepi

Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti
(chairul anwar, hampa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s