Posted in Agama dan Politik

Menjemput Janji Allah tentang Khilafah ‘ala Minhajul Nubuwwah (Pemerintahan atas Minhaj Kenabian).

Gambar

Sebuah Pengantar

 

Hadist yang diriwayatkan oleh Hudzaifah bin al-Yamani, dari Nabi Saw sebagai berikut; dari Nu’man bin Basyir, ia berkata; kami duduk-duduk di Masjid Rosulullah Saw, Basyir adalah seorang yang tidak banyak bicara. Kemudian datang Abu Tsalabah seraya berkata; wahai Basyir bin Sad, apakah kamu hapal hadist Rosulullah tentang para penguasa? Maka hudzaifah tampil seraya berkata, aku hapal khutbahnya. Lalu Abu Tsalabah duduk mendengarkan Hudzaifah berkata; Rosulullah Saw bersabda;

 

1. Muncul kenabian di tengah-tengah kamu selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian Ia akan mencabutnya ketika Ia menghendakinya.

 

2. Kemudian akan muncul khilafah sesuai dengan system kenabian selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian ia akan mencabutnya ketika Ia menghendakinya.

 

3. Kemudian akan muncul raja yang menggigit selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian Ia akan mencabutnya ketika Ia menghendakinya.

 

4. Kemudian akan uncul raja yang dictator selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian Ia akan mencabutnya ketika Ia mmenghendakinya.

 

5. Kemudian akan muncul lagi khilafah sesuai dengan system kenabian

(dikeluarkan oleh Ahmad di beberapa tempat, diantaranya, 4/275; Sunan Abu Dawud, 4/211; Tirmidzi; 4/503)

 

Hadist di atas sangat terkenal di kalangan para aktivis gerakan Islam akan janji Allah kembalinya fase khilafah ‘ala minhajul nubuwwah. Berbagai teori bermunculan untuk menyiapkan janji tersebut. Tentunya dengan berbagai persepsi gerakan Islam masing-masing, baik gerakan Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Ahmadiyah, Syi’ah, dan lain sebagainya.

 

Syaikh Yusuf Qhardawi menyatakan bahwa saat ini umat Islam berada pada fase ke empat, dan hadist tersebut membawa kabar berita baik tentang akan lenyapnya era pemerintahan dictator yang otoriter, zhalim, dan kejam kemudian disusul dengan kekhilafahan yang berdasarkan kenabian . Pandangan Yusuf Qhardhawi berdasarkan pada kejadian para penguasa tiran dan dictator yang lahir pada waktu bersamaan. Seperti Soekarno di Indonesia, di Yugoslavia ada Tito dan Nasser di Mesir. Ketika Soeharto membungkam rakyat Indonesia, di Irak ada Saddam, di Libya ada Khadafi, di Syiria ada Asaad. Pada abad ini pula lahir penguasa seperti Hitler, Stalin, dan Mussolini , dan penguasa yang tiran dan otoriter yang biasa terjadi pada dunia ketiga.

 

Keyakinan akan lenyapnya fase ke empat ini, tentunya didasarkan dengan semaraknya kebangkitan gerakan-gerakan Islam di dunia ini. Mereka terlibat baik dalam gerakan structural, gerakan cultural, maupun gerakan angkatan bersenjata dalam mewujudkan cita-cita politik Islam. Tentunya diantara mereka ada yang memanfaatkan system demokrasi maupun menolak system demokrasi yang dianggap system kufur. Terkadang hal tersebut menjadi sebuah polemic diantara gerakan-gerakan Islam mengenai metode perjuangan dalam mendirikan cita-cita politik Islam atau khilafah ‘ala minhajul nubuwwah.

 

Dalam tulisan ini penulis tidak akan membahas berbagai teori tentang bagaimana menegakkan cita-cita politik umat Islam. Penulis akan membahas peluang janji Allah sebagaimana yang terdapat dalam hadist di atas.

 

Sebuah Peluang dari Indonesia

 

Era kediktatoran di Indonesia sudah berakhir dengan naiknya era reformasi. Era reformasi membuka ruang yang sebebas-bebas bagi para aktivis dakwah untuk menjalankan cita-cita politik mereka. Tidak heran jika seorang Yusuf Qhardhawi memberikan apresiasi terhadap BJ Habibie. Karena pandangan-pandangan demokrasi yang dianut oleh BJ Habibie memberikan ruang yang luas bagi gerakan dakwah Islam untuk tumbuh dan berkembang. Wajarlah jika komentar beliau yang menyatakan bahwa insya allah kejayaan peradaban Islam akan dimulai dari Indonesia. Jadi apakah Indonesia adalah Negara yang pertama kali menjemput janji Allah? Mungkin hal ini bisa terjadi. Sebagaimana komentar dari beliau yang menarik; “kalau saja kita diberi kebebasan selama dua puluh tahun untuk membina umat, tanpa gangguan dan tekanan penguasa atau konflik dengan mereka, itu sudah cukup untuk mengembalikan kejayaan umat Islam kembali.” Wallahu ‘alam

 

Francis Fukuyama dengan artikel terkenalnya The End of History and the Last Man menyatakan bahwa setelah Barat menaklukkan rival ideologinya monarkhi, fasisme, dan komunisme, dunia telah mencapai satu konsesus yang luar biasa terhadap demokrasi liberal. Hal tersebut bisa dihitung tahun pertahun begitu banyak Negara yang mulai menerapkan demokrasi liberal.

 

Yang dimaksudkan oleh Francis Fukuyama, sebagaimana dalam bukunya Trust the Social Virtues and the Creation of prosperity, berakhirnya rezim Uni Soviet sebenarnya seluruh Negara maju telah mengadopsi, dan tengah berusaha untuk mengadopsi lembaga politik demokrasi liberal dan secara simultan bergerak ke arah ekonomi berorientasi pasar dalam penyatuan ke dalam pembagian kerja kapitalis global. Memang menjadi suatu keniscayaan peradaban yang lemah akan mengikuti peradaban yang lebih maju, sebagaimana yang disiratkan oleh ibnu khaldun ‘Siklus Peradaban’. Francis Fukuyama menyatakan hal tersebut sebagai ‘Akhir Sejarah,’ sebagaimana dalam kacamata sejarah Marxis-Hegelian ‘sebagai keniscayaan evolusi masyarakat manusia secara luas menuju satu tujuan akhir.’

 

Fungsi yang substansial dalam demokrasi liberal adalah menjamin hak-hak individu maupun kelompok dalam bidang politik, social, budaya, ekonomi, dan sebagainya.

 

Perlu diketahui konvergensi lembaga-lembaga demokrasi liberal dan ekonomi liberal bukan berarti berakhirnya tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat. Dalam kerangka institusional tertentu masyarakat bisa menjadi kaya atau miskin, maju atau menjadi sebuah kemunduran. Dalam memanfaatkan lembaga-lembaga demokrasi dan ekonomi liberal tergantung pada vitalitas masyarakat sipil yang sehat dan dinamis .

 

Lalu bagaimana demokrasi dan ekonomi liberal ini jika diterapkan dalam konteks keindonesiaan? Demokrasi liberal yang sejati sudah jelas memberikan peluang kepada umat Islam untuk berpartisipasi dalam menenntukan nasibnya sendiri, hal ini tentunya tergantung pada vitalitas umat Islam dalam menentukan nasibnya sendiri untuk mengembalikan kejayaan peradabannya (khilafah ‘ala minhajul nubuwwah).

 

Sebagaimana dalam QS. Al-Imran ; 110 Allah menantang kepada umat Islam untuk menjadi umat yang terbaik dengan melaksanakan 1. Melaksanakan segala progam kebaikan dan kemajuan (amar ma’ruf), 2. Memberantas segala kemiskinan, keterbelakangan (nahi munkar), 3. Meningkatkan spirtualitas (keimanan) . Inilah syarat-syarat yang vital bagi umat Islam untuk mewujudkan khilafah ‘ala minhajul nubuwwah / kejayaan umat Islam.

 

Kalau hijrahnya Rosulullah dan para sahabatnya ke Madinah adalah untuk mencari kebebasan dalam menyebarkan dakwahnya, butuh kurang lebih 10 tahun untuk mewujudkan cita-cita politik Islam. Sedangkan Yusuf Qhardhawi berandai membutuhkan waktu 20 tahun bagi para aktivis dakwah Ikhwanul Muslimin untuk mengembalikan kejayaan umat Islam. Lalu bagaimana dengan umat Islam di Indonesia?semuanya tergantung pada vitalitas umat Islam untuk memanfaatkan peluang kebebasan yang diberikan oleh demokrasi liberal. Perlu diketahui hanya Negara Indonesia yang memberikan peluang kebebasan bagi umat Islam dalam mewujudkan cita-cita politiknya. Sementara Negara-negara muslim lainnya masih banyak menerapkan system yang otoriter. Jadi wajar harapan Yusuf Qhardhawi bahwa kejayaan perdaban Islam (khilafah ‘ala minhajul nubuwwah) insya allah akan dimulai dari Indonesia. Wallahu ‘alam bis showab.

 

Selesai jam 23.48 tgl 20 Agustus 2010 di Cililin

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s