Posted in Agama dan Politik

Sejarah Belum Berakhir (Kemenangan Demokrasi Liberal, Awal Kebangkitan Islam)

Gambar

   By; Iman Munandar

DERITA BESAR ISLAM

Pasca wafatnya Rosulullah Saw, Islam berkembang pesat melampaui wilayah jazirah Arab. Islam mengalami Puncak kejayaan berada pada masa kekhilafahan bani Umayah dan bani Abbasiyah, dengan teritori kekuasaan yang luas dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Di tengah puncaknya kejayaan Islam pada masa bani Abbasiyah, Islam mengalami kelemahannya dari waktu ke waktu. Hal tersebut ditandai oleh dua malapetaka, yakni Perang Salib dan Serangan Mongol ke wilayah kekuasaan bani Abbasiyah.

Islam mengalami kejayaan kembali pada masa kesultanan Ustmani yang berhasil menaklukkan Bizantium (Romawi Timur), Kesultanan Moghul merupakan salah satu kekuatan militer dunia yang terkuat, dan kesultanan Safawi yang menguasai wilayah Persia kuno.

Sementara Eropa saat itu menemukan jalur perdagangan yang tidak diketahui oleh kekuasaan Islam. Perlahan-lahan Eropa bangkit dari zaman kegelapan, Eropa mendatangi wilayah-wilayah kekuasaan Islam (saat itu sudah melemah), lalu menjajahnya. Kekuatan Eropa (Inggris, Perancis, Itali, etc) membagi-bagi teritori kekuasaan Islam menjadi Negara jajahan, dan sampai sekarang bekas Negara jajahan Eropa itu menjadi Negara Bangsa yang lebih kecil daripada sebelumnya. Negara Bangsa ini dikuasai oleh kekuatan nasionalis sekuler, dan Islam mengalami kemunduran ketika perang Arab-Israel (1967) tentara gabungan Arab (kaum muslimin kalah telak oleh pasukan Israel. Seperti sebutan oleh Karen Amstrong bahwa Islam mengalami DERITA BESAR.[1]

SEJARAH BELUM BERAKHIR

Runtuhnya Uni Soviet pada akhir tahun 1980-an sebagai berakhirnya Era Perang Dingin. Sejarawan konservatif Francis Fukuyama menyatakan bahwa berakhirnya perang dingin sebagai akhir sejarah manusia. Demokrasi Kapitalis Liberal telah menang, yakni titik ujung evolusi ideology umat manusia dan universalisasi demokrasi liberal Barat sebagai bentuk akhir pemerintahan manusia.[2]

Namun ada pandangan lain dari teori yang dikemukakan oleh Francis Fukuyama.  Di Iran, Islam berhasil memakzulkan rezim syah dan mengusir Amerika Serikat. Di Afganistan, mundurnya pasukan Merah dari tanah Afganistan bagi kaum jihadis tidak hanya mengalahkan Tentara Merah, tapi juga berhasil meruntuhkan Rezim Uni Soviet. Tinggal Amerika Serikat satu-satunya Negara Adidaya yang masih tersisa. Sejarah mulai Nampak menarik bagi mereka. Karena mereka beranggapan seperti umat Islam pertama yang berhasil mengalahkan dua Imperium dunia pada masanya, imperium Bizantium dan Kekaisaran Sassania Persia. Yang satu tuntas secara keseluruhan, satunya lagi masih tersisa.[3]

 Pasca 11 September 2001, serangan militer sekutu AS ke Afganistan  dan Irak, dukungan AS kepada Israel pada Perang Israel-Libanon (Hizbullah) dan Perang Gaza, telah memicu protes umat manusia. Bagi umat Islam, peristiwa tersebut menjadi sebuah solidaritas Umat Islam seluruh dunia dan mempunyai musuh bersama, yakni AS dan Israel. Perang itu belum berakhir. Perang Di Afganistan antara sekutu AS versus Jihadis, perang di Irak sekutu AS versus Jihadis, dan perang Israel (dukungan AS) versus Palestina merupakan benturan sejarah satu sama lain terjadi secara fisik (perang). Ini mengisaratkan bahwa sejarah belum berakhir.

Di Indonesia, jatuhnya rezim Orba membuka kran demokrasi untuk gerakan dakwah dan gerakan lainnya, hal ini disebut era Reformasi. Pada era reformasi sebagian gerakan bawah tanah bertranformasi menjadi partai politik, seperti jamaah tarbiyah bertranformasi menjadi Partai Keadilan. Karena tidak lolos pada ET pemilu, berubah namanya menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Sebagian besar para pengamat memandang PKS sebagai representasi dari Ikhwanul Muslimin. PKS ini cukup fenomenal, karena salah satu parpol yang secara kaderisasi tersistem dan mempunyai ideology yang kuat. Sementara parpol-parpol lain system kaderisasinya seperti kutu loncat. PKS sebagai gerakan politik dakwah satu-satunya yang menyatakan diri partai berasaskan Islam di dunia yang bisa menikmati demokrasi liberal. Dari pemilu 1999-2009 mengalami kenaikan dalam suara. PKS ini sudah memasuki pemerintahan, legislative, dan bidang lainnya, bahkan beberapa kepala daerah diisi oleh kader PKS. Walaupun tahun ini (2013) PKS kena badai dugaan korupsi impor daging (terlepas dari dugaan konspirasi politik), saya yakin suara PKS ini akan tetap stabil, dan mungkin akan bertambah. Karena kekuatan mesin politik PKS berada system kaderisasinya yang kokoh, bukan karena figuritas.

Di Turki, kini AKP (Partai keadilan dan Pembangunan) menguasai politik nasional Turki.  AKP mengambil pelajaran politik dari FIS (al-Jazair) dan Partai Refah yang diberangus oleh Militer karena berideologi Islam dan memenangkan pemilu. Hal yang menarik dari perkataan Recep Tayyip Erdogan bahwa AKP adalah berideologi sekuler yang tidak memusuhi agama. AKP yang dipimpin oleh Recep Tayyip Erdogan memenangkan pemilu, dan mengantarkan Erdogan menjadi Perdana Menteri.

Di Timur Tengah, musim semi Arab atau Arab spring yang dimulai dari Tunisia pada 2011 telah merontokan rezim otoriter satu persatu, dan gelombang demokratisasi mulai membawa berkah kebebasan berpolitik untuk gerakan Islam. Di antaranya; Mesir, Tunisia, Libya, al-Jazair, dan Maroko mengadakan pemilu, untuk mengisi kekosongan pemerintahan. Ikhwanul Muslimin membentuk Partai Kebebasan dan Keadilan (Hizbul Hurriyah wa a’dalah) sebagai sayap politiknya, di Libya membentuk Partai Keadilan dan Pembangunan (Hizbul al-’Adalah wal Bina’), di Maroko ada Partai Keadilan dan Pembangunan (Hizbul Adalah wat Tanmiyah), di Al-Jazair ada Partai Front Keadilan dan Pembangunan, dan di Tunisia ada  Partai An-Nahdlah. Di Tunisia, Mesir, Maroko, dan Al-Jazair dimenangkan oleh sayap politik Ikhwanul Muslimin. Politik Mesir menjadi sorotan oleh dunia, karena jabatan Presiden dimenangkan oleh Ikhwanul Muslimin. Peta geopolitik di Timur Tengah mengalami perubahan, dan menguntungkan gerakan Hamas yang menguasai Gaza Palestina.. Demokratisasi yang didengungkan oleh Amerika Serikat selama ini justru membawa berkah bagi Ikhwanul Muslimin dan membuka mata gerakan Salafi di Mesir (berkoalisi dengan barisan Ikhwan dalam Pemilihan Presiden) untuk membentuk partai politik. Ini menandakan bahwa sejarah belum berakhir, dan sejarah telah menunjukkan bahwa Islam mulai bangkit.

MEREBUT SEJARAH

Dalam al-Qur’an surat al-Imron ayat 26 Allah berfirman;

“Katakanlah, Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Ayat tersebut memberitahu kita, bahwa kejayaan suatu bangsa atau umat akan terus bergilir. Ada saatnya Islam mengalami kejayaan, ada saatnya pula Islam mengalami kemunduran. Itu sudah sunnatullah, dan berlaku untuk semua bangsa dan agama.

Hadist yang diriwayatkan oleh Hudzaifah bin al-Yamani, dari Nabi Saw sebagai berikut; dari Nu’man bin Basyir, ia berkata; kami duduk-duduk di Masjid Rosulullah Saw, Basyir adalah seorang yang tidak banyak bicara. Kemudian datang Abu Tsalabah seraya berkata; wahai Basyir bin Sad, apakah kamu hapal hadist Rosulullah tentang para penguasa? Maka hudzaifah tampil seraya berkata, aku hapal khutbahnya. Lalu Abu Tsalabah duduk mendengarkan Hudzaifah berkata; Rosulullah Saw bersabda;

  1. Muncul kenabian di tengah-tengah kamu selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian Ia akan mencabutnya ketika Ia menghendakinya.
  2. Kemudian akan muncul khilafah sesuai dengan system kenabian selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian ia akan mencabutnya ketika Ia menghendakinya.
  3. Kemudian akan muncul raja yang menggigit selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian Ia akan mencabutnya ketika Ia menghendakinya.
  4. Kemudian akan muncul raja yang dictator selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian Ia akan mencabutnya ketika Ia mmenghendakinya.
  5. Kemudian akan muncul lagi khilafah sesuai dengan system kenabian

(dikeluarkan oleh Ahmad di beberapa tempat, diantaranya, 4/275; Sunan Abu Dawud, 4/211; Tirmidzi; 4/503)

Syaikh Yusuf Qhardawi menyatakan bahwa saat ini umat Islam berada pada fase ke empat, dan hadist tersebut membawa kabar berita baik tentang akan lenyapnya era pemerintahan dictator yang otoriter, zhalim, dan kejam kemudian disusul dengan kekhilafahan yang berdasarkan kenabian.[4]

Pandangan Syaikh Yusuf Qhardawi sangat tepat, bahwa umat Islam sedang menuju pada fase ke lima. Hal ini ditandai runtuhnya rezim otoriter di beberapa Negara bermayoritas muslim. Kran demokrasi liberal telah dibuka, beberapa gerakan Islam seperti Ikhwanul Muslimin dan salafi membentuk partai politik untuk berpartisipasi dalam kerangka Demokrasi liberal. Beberapa diantara Negara bermayoritas Muslim, pemilu dan pilpres telah dimenangkan oleh Ikhwanul Muslimin dan salafi.

Kaum mujahidin di Afganistan, Irak, Palestina, dsb, mengalami kemajuan dalam perkembangan militer. Walaupun Afganistan dan Irak diserang oleh AS dan sekutunya, mujahidin hingga saat ini masih bertahan. Perang Gaza, Hamas sebagai pemenang.

Demokratisasi dan ekspansi militer yang telah dilakukan oleh AS dan sekutunya justru telah mengantarkan umat Islam menuju fase ke lima. Umat Islam sedang berupaya untuk mewujudkan fase ke lima yang telah lama diramalkan oleh Rosulullah Saw.

Menuju Fase ke Lima

            Ketika Negara-negara (baik bermayoritas muslim maupun non muslim) telah membuka kran demokrasi liberal, dan terjadi konvergensi lembaga-lembaga politik dan ekonomi di sekitar model demokrasi liberal tidak berarti berakhirnya tantangan-tantangan bagi masyarakat. Dalam kerangka model demokrasi liberal baru diterapkan, masyarakat bisa menjadi kaya atau lebih miskin, bahkan bisa mengalami kemunduran memutar jarum jam sejarah ke arah fasisme atau anarki.[5]

            Memenangkan pemilu dan pilpres saja tidaklah cukup. Karena tantangan sebenarnya adalah pasca kemenangan dalam pemilu dan pilpres, yakni stabilitas ekonomi Negara yang mandiri. Jika partai Islam telah memenangkan pemilu dan pilpres, dan selama periode pemerintahannya tidak membuahkan kemajuan bangsa, jangan harap partai Islam akan dipilih lagi oleh rakyatnya.

            Kemenangan militer oleh mujahidin tanpa dibarengi memperkuat stabilitas politik dan ekonomi, maka yang akan terjadi adalah sebuah anarki atau konflik antar faksi.

            Memperkuat stabilitas politk, ekonomi, dan militer sangat penting bagi gerakan-gerakan politik Islam yang telah meraih kemenangan dalam pesta demokrasi (pemilu dan pilpres). Karena itu merupakan syarat kuatnya suatu Negara bangsa. Walaupun hari ini umat Islam memiliki wadah persatuan Negara-negara yang bernama OKI (Organisasi Konferensi Islam), namun tak bisa berbuat banyak ketika menghadapi ulah Negara kecil seperti Israel.

            Ramalan Rosulullah Saw tentang Fase ke Lima akan terwujud, bila diiringi dengan memperkuat stabilitas politik, ekonomi, dan militer. Sebuah fase pemerintahan yang berdasarkan manhaj Kenabian, dan menjadikan Islam sebagai akhir sejarah, keluar sebagai pemenang.

           

 


[1] Karen Amstrong, Islam; A Short History, Ikon, Surabya, 2004, hlm. 165.

[2] Ian Bremmer, The End of The Free  Market, Gramedia, Jakarta, 2011, hlm. 1

[3] Tamim Ansary, Destiny Disrupted ; A History of The world Through Islamic Eyes, Zaman, Jakarta, 2010, hlm. 548.

[4] Perang Iraq-AS, Mohammad Safari dan Muzzammil Yusuf (ed), Comes; Jakarta, 2003.hal 221

[5] Francis Fukuyama, Trust, Qalam, Yogyakarta, hlm. 3-5.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s