Posted in Agama dan Politik

MEMBUMIKAN KEDAULATAN TUHAN KE WILAYAH DEMOKRASI (Perspektif Abu ‘Ala Maududi)

GambarBy; Iman Munandar (085294553964)

SEBUAH PENGANTAR

Judul di atas memang terasa rancu, bahkan aneh bagi sebagian orang yang menilai bahwa meleburkan definisi kedaulatan Tuhan ke dalam Demokrasi sangat bertolak belakang. Dalam demokrasi yang berdaulat hanyalah rakyat, jadi bukan Tuhan yang berdaulat. Itulah saat saya berdiskusi dengan seorang teman di kelas tentang gagasan Theo-Demokrasi yang saya gaungkan di kelas. Karena waktu yang sangat terbatas saya tidak bisa menjelaskan secara rinci.. Sebenarnya istilah Theo-Democracy diambil dari pendapat Mujadid Abu A’la Maududi. Dan sudah ada makalah yang saya buat tentang pemikiran politik Islam menurut Abu A’la Maududi waktu masih awal kuliah, semester pertama. Ada keinginan untuk segera menjelaskan kembali dalam tulisan ytang ringkas dan jelas, dan keinginan itu terkubur selama tiga tahun lebih.

Al-hamdulillah makalah tersebut masih utuh. Rasanya perlu saya menuliskan kembali makalah tersebut, iya makalah tersebut tidak memakai ukuran karya tulis ilmiah yang harus pakai kutipan buku mana, karangan siapa, maklum waktu itu saya belum dapat ilmu karya tulis ilmiah. Tapi yang lebih penting adalah substansinya teori politik Islam, atau menurut hemat saya, lebih tepatnya berjudul Membumikan Kedaulatan Tuhan ke Wilayah Demokrasi Dalam Perspektif Abu A’la Maududi. Baiklah saya coba menjelaskannya kembali;

NASIONALISME DAN ISLAM

Al-Maududi dengan tegas membedakan antara Nasionalisme dan Islam. Menurutnya Islam berbicara tentang manusia sebagai manusia. Islam menyadarkan kepada semua manusia suatu system kemasyarakatan yang adil dan luhur yang dilandasi oleh agama dan moralitas, dan mengajarkan kepada mereka kedua-duanya. Siapa saja yang menerima baik system tersebut diakui sebagai keluarga muslim dan mendapatkan hak-haknya tanpa membeda-bedakannya. Baik hak-hak dalam bidang ekonomi, politik, kewarganegaraan, hukum, maupun kewajiban-kewajibannya. Mereka yang menerima prinsip-prinsip Islam tidak dibeda-bedakan baik lantaran perbedaan kiebangsaannya, ras, kelas ataupun negaranya. Tujuan akhir Islam adalah adalah Negara dunia (World State), dimana-mana ikatan rasial dan nasional lebur menjadi satu dan semua orang bersatu-padu dalam satu kesatuan system budaya dan politik, semuannya mendapatkan hak-hak dan kesempatan yang sama, persaingan yang bernada permusuhan akan musnah dan sebagai gantinya akan berbentuk kerjasama yang penuh keramahtamahan diantara bangsa-bangsa itu sehingga mereka satu sama lain bisa saling bantu membantu dan tunjang menunjang demi kebaikan bersama di bidang material maupun moral. Menurutnya juga, Islam secara garis besar menuntut semua orang untuk membebaskan diri dari segala macam prasangka dan melepaskan ikatan-ikatan tradisional, perasaan bangga terhadap ras dan kecintaanya kepada ikatan keturunan dan harta. Dan mereka semata-mata manusia siap untuk menerima yang haq, keadilan, dan menerima jalan yang lurus membawa kebaikan.

Sedangkan Nasionalisme membagi-bagi manusia atas dasar perbedaan kebangsaan. Secara sederhana nasionalisme bisa diartikan bahwa penganutnya (kaum nasionalis) harus mendahulukan kebangsaannya sendiri sebelum kebangsaan lainnya. Nasionalisme juga tidak akan memperlakukan warga Negara yang berkebangsaan lain dengan cara yang sama dalam segala segi kehidupannya. Tujuan akhir bagi nasionalis hanyalah Negara nasional (Nation State).

Walaupun andai kata ia berpegang teguh pada ideology dunia, namun ideology itu akan berbentuk imperalisme atau pendominasian dunia. Karena anggota-anggotanya yang berasal dari kebangsaan lain tidak diberi kesempatan yang sama untuk ambil bagian urusan negaranya itu, kecuali sebagai budak-budak yang tidak berperan menentukan.

Pemikiran al-Maududi yang blak-blakkan menolak ideology nasionalisme, diakibatkan nasionalisme yang lahir di Turki, dipelopori oleh Kemal At-Taturk, telah menghapuskan kekhilafahan muslimin. Hal ini juga sama terjadi di mesir, al-Maududi jadi sinis terhadap nasionalisme yang diyakininya menyesatkan orang-orang Turki dan Mesir.

TEORI POLITIK ISLAM

Al-Maududi menentang pendapat orang-orang yang menyatakan bahwa Demokrasi sekuler dan Islam sama sekali tidak ada perbedaan. Dia juga menentang pendapat yang menyatakan bahwa komunisme tidak lain adalah Islam juga dalam versi yang terakhir dan yang disempurnakan, dan karenannya sudah selayaknya jika kaum muslimin mau mengikuti pengalaman komunis di Soviet Rusia. Sikap ini ternyata timbul dari perasaan rendah diri mereka, dari keyakinan yang menganggap bahwa kita sebagai kaum muslimin tidak akan memperoleh harga diri mereka dan penghormatan. Jika kita tidak mampu menunjukkan, bahwa agama kita menyerupai pemikiran-pemikiran modern serta sejalan dengan kebanyakan ideology-ideology kontemporer. Menurutnya, orang-orang sependapat seperti itu sebenarnya telah melakukan kebohongan besar terhadap Islam, karena mereka telah mengubah teori politik Islam menjadi semacam teka-teki atau gabungan dari berbagai macam pendapat manusia.

Asas pertama dalam teori politik Islam adalah kepercayaan terhadap ke-Esaan dan kedaulatan Allah adalah landasan dari system social dan moral yang dibawa oleh para Rosul Allah. Kepercayaan itulah yang satu-satunya titik awal dari filsafat politik Islam. Manusia tidak mempunyai hak untuk membuat aturan hukum atas kemauannya sendiri dan tidak ada kewajiban sama sekali bagi siapapun untuk tunduk pada aturan-aturan hukum seperti itu. Hanya Allah lah yang mempunyai hak membuat aturan-aturan hukum bagi manusia (QS. 12:20).

Berdasarkan teori ini bahwa kedaulatan adalah milik Allah, Dia sendirilah yang membuat hukum. Tak seorang pun yang dapat menyatakan dirinya sebagai pemegang kedaulatan. Hanya Allah lah yang sendiri memegang kedaulatan yang sebenarnya. Sedangkan yang lain hanyalah hamba-hamba-Nya.

Dari pembahasan di atas sangat jelas dikatakan bahwa dilihat dari sudut pandangan politik kenegaraan dalam Islam adalah konsep Kerajaan Tuhan yang dalam bahasa Inggrisnya dikenal dengan istilah Theocracy. Namun demikian Theocracy dalam Islam sangat berbeda dengan Theocracy yang pernah dijalankan di Eropa, yang menimbulkan pengalaman pahit di mana kelas pendeta melakukan dominasi tanpa batas terhadap rakyat dan memaksakan aturan hukum yang mereka tetapkan sendiri dengan mengatasnamakan Tuhan. Lain halnya dengan theocracy yang dibangun berdasarkan Islam. Ia tidak ditempatkan di bawah kekuasaan kelas agama tertentu melainkan di tangan seluruh kaum muslimin. Kaum muslimin secara keseluruhan menjalankan roda pemerintahan itu sesuai dengan petunjuk-petunjuk kitab suci al-Qur’an dan as-Sunnah Nabi. Al-Maududi memberi istilahnya dengan nama Theo-Democracy.

Islam menggunakan kekhilafahan, bukan kedaulatan. Sebab kedaulatan hanyalah milik Allah, siapa saja yang memegang kekuasaan dan pemerintahan sesuai dengan hukum-hukum Allah tidaklah lain hanyalah sebagai wakil atau kholifah.

Dalam mendefinisikan bentuk Negara Islam, Maududi hanya meminjam dari Barat. Negara Islamnya akan dijalankan oleh mesin pemerintah yang modern, presiden yang terpilih, parlemen, dan kehakiman yang serba bisa. Hubungan antar cabang ini akan diatur dengan check and balance yang ditentukan oleh konstitusi. Maududi juga mendukung Islamisasi masyarakat sebelum menciptakan Negara Islam, karena jika Negara diIslamisasikan sebelum masyarakat, maka Negara akan terpaksa menggunakan otokrasi (lawan dari demokrasi) untuk memaksakan kehendaknya pada masyarakat yang belum siap dan keberatan. Dengan demikian, ini juga malapetaka bagi proses transformasi social-politik.

Tujuan Negara Islam ialah menciptakan suasana kehidupan, di mana rakyat memperoleh jaminan atas keadilan social yang sejalan dengan tolak ukur Ilahi yang dijelaskan dalam kitab suci-Nya (al-Qur’an). Wallahu ‘alam bis showab.

Al-Hamdulillah selesai pada hari Sabtu 26-09-09 di Cililin, pukul 19:40.

Sumber Rujukan

Abu A’la Maududi, Politik dalam Islam, Bandung; Mizan, 1987.
Ali Rahnema (editor), Para Perintis Zaman Baru Islam, Bandung; Mizan, 1996.
John J. Donohue & John L. Esposito, Islam dan Pembaharuan, Jakarta; Rajawali Press, 1993
Karen Armstrong, The Battle For God, Bandung ; Mizan, 2004. (terjemahan)
————–, Islam;a Short History, Surabaya; Ikon, 2004. (terjemahan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s