Posted in Sastra

THE PAST

GambarJalan-jalan seperti ini yang tak ingin kulewati, jalan yang menguras pikiranku akan pahitnya masa lalu itu. Masa lalu yang pekat melekat, jauh menusuk hati. Membusuk di antara himpitan kepercayaan dan juga kebohongan. Aku masih ragu kepercayaan itu ada. Kejujuran pun tak membiarkanku untuk menganggapnya ada. Selalu merobohkan kepercayaan dengan kebohongannya. Ketika mengangkatmu kau selalu menjatuhkan dengan cara yang sama. Selalu membuat orang-orang jatuh hati padamu, padahal di dalamnya busuk!!!! Busuk melebihi sampah organik yang sudah bertahun-tahun.

Ingatkah kau ketika burung bernyanyi dengan merdu? Di tempat yang jalannya pernah kita lewati, langitnya sangat cerah dan udaranya hangat. Kurasa tidak, karena kau membiarkan itu hilang. Hilang, terbang dan tak pernah singgah lagi di otakmu, ingatanmu. Sekali lagi ingin mempercayaimu, sangat ingin mempercayaimu dan waktu pun menghendakinya. Mempercayai sepenuhnya apa yang kau lakukan, ya akhirnya aku percaya tanpa ada rasa curiga atas kebohonganmu. Langit-langit menjadi cerah saat itu bahkan begitu cerahnya langit membuatku tak ingin menemui malam, karena aku tak ingin tenggelam dalam rasa curigaku lagi.

Doaku terkabul. Aku menikmati hari-hari bersamamu tanpa adanya malam. Hari berganti hari tanpa datangnya malam yang sebenarnya ada, namun aku tak merasakan itu adalah malam. Karena malam-malamku terisi penuh pernak-pernik yang kau beri. Kita lewati jalan itu lagi, jalan yang mungkin kan selalu ceria bila kita lewati. Masih saja ada ragu meskipun kau sudah disampingku, tapi tak pedulikan itu. Burung itu masih ada bernyanyi dengan merdu seperti tahu perasaanku. Terus mengiringi kita sampai taman yang ada di ujung jalan itu. Bunga-bunga di sana masih tetap berseri menyambut kedatangan kita menawarkan warna-warnanya yang indah. Aku sangat suka saat ini, ketika hujan turun tetap saja hatiku gembira karena ada kau di sampingku. Hingga seterusnya aku selalu suka hujan dan taman-taman yang mirip tempat itu.

Tak disadari waktu yang begitu panjang sudah kita lewati. Di taman itu kita bercanda ria, mengingat dulu kita bertemu di suatu coffee shop di seberang taman. Ketika itu hujan turun aku berteduh di sana. Menunggu hujan reda sambil meminum cappucino membuat hari itu hangat walaupun hujan yang begitu lebat membuat tubuh menggigil sampai tulang. Kau menghampiriku memperkenalkan diri, kita mengobrol sampai hujan reda. Dari hari ke hari kita semakin akrab bagai lem yang begitu rekat. Bertemu di coffe shop itu menghabiskan kopi bersama dan akhirnya jalan-jalan menuju taman.

Di taman itulah kisah itu dimulai. Bermula dari kau memberi bunga, cokelat, boneka dan hal-hal yang disukai wanita. Aku suka itu, sangat suka. Kau pernah bilang yang terpenting dalam suatu hubungan adalah keprcayaan dan kejujuran. Sejak itu aku mulai mempercayaimu dan selalu mementingkan kejujuran. Tapi hari itu, hari yang langitnya abu, aku melihatmu bersama orang lain. Orang yang sangat kupercaya, sahabatku. Melihat kalian begitu mesra bercanda ria, burung berhenti bernyanyi, bunga-bunga tak berseri lagi bahkan warnanya pun tak menarik. Tapi bumi ini masih berputar tanpa kau disampingku. Setelah kepergianku kau tak mencariku. Semakin sesak dada ini mengingat kepercayaanku di khianati.

Tapi ketika hari kau datang lagi, menawarkan hatimu lagi. Tak tahu dihipnotis oleh apa, aku mempercayaimu. Mencoba untuk mempercayaimu. Di taman ini, taman yang pernah kita lewati di tahun lalu. Meskipun ragu tapi tak pedulikan itu. Kita lewati hari-hari itu lagi, hari yang bunganya berseri, burungnya bernyanyi begitu merdu dan hujan yang selalu membuatku suka.

Hari berganti hari. Sangat indah hari-hariku. Mempercayaimu lagi ternyata menyenangkan meskipun ada ragu yang kusimpan. Duduk di coffe shop ditemani cappucino yang hangat aku melihatmu melambaikan tangan. Aku tersenyum, tapi kau melewatiku, menghampiri seorang wanita cantik di seberang coffe shop, taman itu. Lagi-lagi seperti ini.

Jalan-jalan seperti ini yang tak ingin kulewati, jalan yang menguras pikiranku akan pahitnya masa lalu itu. Masa lalu yang pekat melekat, jauh menusuk hati. Membusuk di antara himpitan kepercayaan dan kebohongan. Aku ragu kepercayaan itu ada. Kejujuranpun tak membiarkanku tuk menganggapnya ada. Selalu merobohkan kepercayaan dengan kebohongannya. Ketika mengangkatnya dia selalu menjatuhkan dengan cara yang sama. Selalu membuat orang-orang jatuh hati padanya, padahal di dalamnya penuh dengan hal yang maya!!!! Dengarkan jeritan tangis kegelapan hatiku, yang kau tikam dengan belati munafikmu. Jadikan aku di antara gersang sahara hanya kata-kata yang bemain fatamorgana. Tetap saja terperangkap di lubang yang sama. Duka, tawa semua sama karena hanya dusta yang kau bawa.

-Geranium-

One thought on “THE PAST

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s