Posted in Sastra

Kancil SH., Drs. Kambing, dan Bebek, MA.

by; Kuntowijoyo

GambarMenghadapi pemilihan Anggota Dewan Musyawarah Nasional, kampung itu bersepakat mengadakan kampanye bersama. Sebuah panggung –mirip ring tinju- didirikan di tengah tanah lapang. Begitu mirip ring tinju, sehingga seekor monyet nyeletuk, “ini mau pidato atau mau adu jotos?”

Komentar itu beralasan. Sebab, di tempat lain pemilihan masih lama, tapi jotosan, bakar-bakaran, dan rusak-rusakan sudah dimulai. Kampung itu patut dicontoh, bukan saja aman, malah ada kampanye bersama segala. Pemilihan Anggota Dewan itu memilih calon, tidak memilih partai. Maksudnya, supaya setiap calon mengerti persis daerah yang diwakilinya. Calonnya ialah Kancil SH., Drs. Kambing, dan Bebek, MA.

Pada hari yang ditentukan, semua penghuni berkumpul di lapangan. Kancil, SH. Dipersilakan yang pertama naik panggung.

“Zaman sudah berubah. Kita menghadapi suatu zaman di mana yang diperlukan bukan otot, tetapi otak, pintar menguasai teknologi, itulah kuncinya. Karena itu, kalau terpilih, saya akan berjuang supaya semua sekolah dari TK sampai Perguruan Tinggi gratis.”

Burung Hantu Junior yang mendengarkan pidato itu dari sebuah dahan berkomentar. “Bhullshit! Tahi Kucing! Omong kosong! Dari mana uangnya kalau serba gratis?”

Giliran Drs. Kambing berpidato.

“Saudara-saudara. Prinsip kita adalah mens sana in corpora sano, pikiran yang sehat terletak dalam badan yang sehat. Jangan khawatir, kalau saya menang, akan dibagikan susu kambing secara Cuma-Cuma.”

Di dahannya Burung Hantu Junior gerundelan sendiri, “Susu kambing? Bau! Prengus! Apa kambing bisa menghasilkan sepuluh liter sehari?”

Kini waktu tersedia untuk Bebek, MA. Bebek selalu memulai semua pidato dengan “saya setuju”, entah basa-basi, taktik, atau sunguh-sungguh.

“Saya setuju prioritas kita ialah pendidikan. Untuk berhasil dalam bidang pendidikan, perlu badan sehat. Kalau saya terpilih, bangsa bebek sudah sepakat untuk bertelur lebih banyak. Dalam telur, semua ada. Ada protein, ada vitamin, ada mineral.”

Komentar Burung Hantu Junior, “Gombal! Belum terpilih jadi wakil saja sudah mau memeras bangsanya sendiri.”

Kampanye itu selesai, para penghuni bergerak pulang. Burung Hantu Junior itu turun dari dahan. Dia mencegat mereka yang mau pulang. Katanya pada setiap pengunjung, “Jangan percaya, jangan percaya. Tong kosong berbunyi nyaring!  Tong kosong berbunyi nyaring!” Kata-kata itu diulangnya pada banyak warga. “Tong kosong berbunyi nyaring!”

Tak ada yang peduli, semua bergegas pulang.

Sendirian, Burung Hantu Junior itu memutuskan untuk pergi ke pasar. Dekat pasar, di tanah lapang dilihatnya mereka menonton sesuatu. Mereka sedang menonton yang di dunia manusia disebut ledhek kethek (tarian monyet). Dekat mereka tertulis di sebuah papan tema pertunjukan itu : “Kriminalitas”. Rupanya tarian itu sedang mempertontonkan kejahatan yang terjadi pada bangsa manusia. “Aku sudah tahu semuanya, tak ada gunanya mengekspos. Hasilnya sama saja, diekspos atau tidak. Rasa malu sudah hilang. Ini tidak relevan, “ pikirnya. “Apa relevansi kejahatan bangsa manusia dengan pemilihan anggota dewan?”

Tarian disusun untuk mendapatkan efek dramatis. Yang sempat disaksikan Burung Hantu Junior ialah adegan yang memperagakan seseorang yang mencopet di pasar. Orang itu dikeroyok massa (dipukul, ditendang, ditempeleng), lalu mati. Adegan lain ialah a very very white collar crime. Seseorang duduk dekat meja, di atas kursi empuk, lalu menulis surat sakti. Serombongan anak muda memprotes. Apa yang terjadi kemudian? Orang itu dikalungi bunga sebagai pahlawan. “Memalukan!” kata Burung Hantu Junior. “Semoga polusi merah itu tidak menulari dunia binatang.”

Ia ingat tujuannya, lalu pergi ke pasar. Di pasar dia berkata, “Golput! Golput! Jangan ikut pemilihan. Ini namanya penipuan konstitusional. Golpu-ut! Golpu-ut!”

Seorang ibu kucing yang sedang membeli tikus bertanya kepada tetangganya, “Makanan apa yang ditawarkan, tho Yu?

“Golput. Golput itu makanan kecil dari singkong. Singkong mentah ditumbuk, diberi gula jawa, lalu dikukus.”

Tiba-tiba datang beberapa ekor anjing polisi. Polisi itu sudah berpengalaman, pernah bekerja sebagai anjing polisi pada Dinas Kepolisian di dunia manusia. Mereka menggelendang Burung Hantu Junior dan memasukkannya ke sel.

Tahu kalau anaknya ditahan polisi, Burung Hantu Ssenior membebaskannya dengan menanggungnya. Nasihatnya, “Begitu, ya.. Begitu; tapi mbok ya ….. jangan begitu. Orang yang pesimis ketika melihat gelas isi separo, ia akan bilang, ‘Airnya tinggal separo’. Sebaliknya, Orang yang optimis bilang, ‘Airnya masih separo’. Jangan melihat bulan hanya pada sisi gelapnya. “

* diambil dari buku Mengusir Matahari karya Kuntowijoyo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s