Posted in Agama dan Politik

Antara LHI, Hukum, dan Kekuasaan

ImageBeberapa bulan yang lalu, istri saya menceritakan mimpinya kepada saya tentang LHI. Istri saya bermimpi pada akhirnya LHI akan divonis bebas. Saya hanya diam seribu bahasa mendengar cerita dari istri. Hanya berharap saja hukum betul-betul ditegakkan kepada siapa pun, tanpa pandang bulu. Jika LHI itu memang bersalah, ya hukumlah sesuai dengan hukum. Jika dia dinyatakan bebas pada vonis terakhir, namanya harus direhabilitasi dan masyarakat mencaci makinya harus meminta maaf. Begitu pula pada persidangan LHI, banyak nama-nama yang terkuak, harus diperiksa dan bongkar sampai ke akar-akarnya, walaupun nama-nama itu dekat dengan lingkaran kekuasaan. Itulah hukum tanpa intervensi politik.

Ketika saya mengikuti mata kuliah Hukum Internasional, waktu itu sekitar tahun 2007-2008an, seorang mahasiswa bertanya kepada dosen,‘kenapa George W Bush yang jelas-jelas melanggar HAM di Irak dan Afganistan tidak diseret ke Pengadilan Kriminal Internasional (ICC)?’  Dosen itu menjawab, ‘Karena George W Bush dan Negaranya masih berkuasa.’

Sejak saat itu saya mulai menyadari, hukum dan politik itu selalu berkaitan dan sering kali politiklah yang mendominasi hukum. Baik tingkat internasional, nasional, dan daerah berlaku hal yang sama. Hukum bisa mendominasi politik apabila kekuasaan itu akan berakhir atau sudah berakhir.

Pada tahun 2009-2010 an lebih, saya dan beberapa sahabat menangani sebuah kasus dugaan korupsi yang diduga melibatkan penguasa. Hampir setiap hari melakukan konsolidasi gerakan untuk menuntaskan kasus ini. Namun, yang saya rasakan ternyata arus politiknya lebih kuat dibandingkan dengan arus keadilan hukumnya. Betapa mesranya antara politik dan hukum itu, dan wajar kalau kasus itu sangat lambat ditangani oleh pihak yang berwajib.

Saya dan beberapa sahabat menyadari posisi kami, betapa lemahnya posisi kami melawan arus politik yang dominan itu. Lebih baik saya diam, dan melakukan aktivitas yang seperti biasanya. Pada waktu itu, saya memutuskan untuk menyelesaikan studi kuliah yang terbelangkalai.

Al-hamdulillah pada akhirnya saya lulus kuliah pada bulan September 2011, dan menarik diri dari pergerakan mahasiswa/politik. Sampai saat ini saya lebih focus mewujudkan impian saya yang telah lama terkubur.

Sekitar tahun 2013-an, entah bulan apa, penguasa itu akhirnya dijadikan tersangka oleh KPK. Itupun karena kekuasaan dia telah berakhir, riwayat politiknya sudah berakhir. Mungkin KPK akan gagah berani membongkar habis kasus korupsi Century, Hambalang, etc, jika kekuasaan politik itu sudah berakhir. Apalah artinya Keberanian KPK itu hanya menunggu kekuasaan politik berakhir. Memang sekarang adalah zaman edan. Bohong artinya yang berkoar-koar HUKUM ITU PANGLIMA.

Selesai di Kaki Gunung Gede-Pangrango yang dingin.

Iman Munandar.

2 thoughts on “Antara LHI, Hukum, dan Kekuasaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s