Posted in Agama dan Politik

Napas baru Dakwah, by Ade Winata

Napas baru Dakwah
-Ade Winata-

===============================================
“Sekularisme itu sesuatu yang berbeda dengan sekularisasi. Cak Nur menolak sekularisme karena sekularisme menjauhkan bahkan memusuhi agama dari negara. Cak Nur itu menginginkan sekularisasi. Artinya kita harus bisa membedakan hal-hal yang statusnya profan dan sakral. Yang profan statusnya harus tetap profan. Jangan disakralkan. Kita diajak untuk bersikap proporsional. Sesuatu yang sakral kita sakralkan. Segala yang profan kita profankan,” tegasnya.

– Shohibul Iman Phd- 

==============================================

Saya tidak tau apakah ini benar perkataan beliau atau tidak yang dikutip oleh media asuhan Ade Armando.

Namun sungguh ini perkataan yang baik dan bagus dan benar. Gerakan islam di indonesia harus bisa membedakan Profan dan sakral.

Apa yang dimaksud “profan” dan “sakral”

Sakral : Sesuatu hal yang supranatural dan tidak mampu untuk dijangkau oleh akal, interaksi yang bisa kita lakukan ialah dengan menyakini nya saja tanpa bisa ada pembantahan.

Seperti konsep Alam barzah, syurga dan neraka, Wujud keberadaan Tuhan, hal2 yang sifat nya mahdah dan tetap telah ditetapkan oleh Tuhan dalam Kitab suci

Profan : Hal yang lumrah untuk dibahas dan dipertanyakan dan dielaborasi sedalam mungkin, Interaksi yang bisa kita lakukan dengan pola pikir Induktif atau deduktif dan kaidah logika yang berlaku.

Seperti : Konsep negara, strategi bisnis, Keuangan, Fiqh, kebijakan politik dll

Dan dalam islam pun bisa kita bisa menemukan ini, misal konsep asmaul husnah dalam tradisi Salaful shaleh, tidak ada tamsil, , Tahrif, Ta’thil dan Takyif yang bersifat sakral dan cukuplah kita saminawathana dengan Allah dan rasul na

namun dalam hal yang profan bagaimana dalamn Al-Baqarah : 282 digambar penting na pencatatan, bukti dan profesionalisme.

Contoh dilapangan :

Misal, ada sebuah lembaga amal tentu harus menunjukkan tranparansi dalam usaha na, dan bisa di double confirm dengan di audit pihak luar atau pun internal, bukan malah menuntut donatur atau karyawannya untuk samina wathana atau harus berbaik sangka dengan pengurus.

Seperti ini penerapan hal yang profan dan tidak disakralkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s